Belajar Melihat Pembelajaran
dari
Mata Murid (#05)
21 Agustus 2026
Empat hari terakhir saya banyak berbicara kepada diri sendiri.
Tentang kemerdekaan.
Tentang mengenal diri.
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html
Tentang terus bertumbuh.
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html
Dan tentang keberanian untuk jujur melihat praktik kita sebagai guru. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html
Hari ini saya ingin menggeser pandangan.
Bukan lagi hanya bertanya:
“Bagaimana saya mengajar?”
Tetapi mencoba bertanya:
“Bagaimana murid mengalami pembelajaran saya?”
Pertanyaan ini ternyata tidak sederhana.
Karena selama ini, tanpa sadar, kita sering melihat kelas dari tempat kita berdiri.
Kita melihat rencana pembelajaran yang sudah kita siapkan.
Kita melihat materi yang sudah kita sampaikan.
Kita melihat aktivitas yang sudah kita rancang.
Kita melihat tugas yang sudah diberikan.
Kita melihat asesmen yang sudah dilakukan.
Lalu kita merasa:
“Saya sudah mengajar.”
Tetapi apakah itu berarti murid sudah belajar?
Mengajar tidak selalu berarti membuat murid belajar
Ada perbedaan antara apa yang guru lakukan dan apa yang dialami murid.
Guru mungkin merasa sudah menjelaskan dengan baik.
Tetapi murid mungkin masih bingung.
Guru mungkin merasa aktivitasnya menarik.
Tetapi ada murid yang merasa tidak nyaman.
Guru mungkin merasa sudah memberi kesempatan bertanya.
Tetapi mungkin hanya murid tertentu yang berani menggunakannya.
Guru mungkin merasa kelasnya aktif.
Tetapi bisa saja aktivitas itu hanya didominasi oleh beberapa murid.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat guru merasa bersalah.
Justru sebaliknya.
Pertanyaan ini mengajak kita melihat pembelajaran dari perspektif yang lebih utuh.
Dari mata murid.
Mencoba melihat dari sisi yang berbeda
Saya teringat kembali pada gagasan Stephen D. Brookfield tentang critical reflection.
Salah satu lensa yang ia tawarkan kepada guru adalah student eyes—melihat praktik pembelajaran dari perspektif peserta didik.
Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan bahwa pengalaman guru dan pengalaman murid tidak selalu sama.
Apa yang bagi kita sederhana, mungkin terasa sulit bagi murid.
Apa yang menurut kita jelas, mungkin masih membingungkan.
Apa yang kita anggap sebagai motivasi, mungkin justru dirasakan sebagai tekanan.
Dan apa yang kita anggap sebagai sebuah kesempatan, mungkin belum tentu dirasakan demikian oleh semua murid.
Maka pertanyaan reflektifnya bukan hanya:
“Apa yang sudah saya lakukan?”
Tetapi:
“Apa yang dirasakan dan dialami murid ketika saya melakukannya?”
Pernahkah kita benar-benar bertanya kepada murid?
Kadang kita sibuk mencari strategi pembelajaran dari berbagai sumber.
Membaca buku.
Mengikuti pelatihan.
Mencoba teknologi baru.
Mempelajari model pembelajaran.
Mendesain aktivitas yang inovatif.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu sumber informasi yang sering kali paling dekat dengan kita:
murid itu sendiri.
Mereka dapat memberi tahu kita sesuatu yang tidak selalu terlihat dari meja guru.
Mereka dapat mengatakan:
“Saya lebih mudah memahami ketika Ibu memberikan contoh.”
Atau:
“Saya sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut salah.”
Atau:
“Saya senang bekerja dalam kelompok, tetapi saya sering tidak mendapat kesempatan berbicara.”
Atau bahkan:
“Saya tidak mengerti, tetapi saya malu mengatakan bahwa saya tidak mengerti.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi cermin yang sangat berharga.
Mendengarkan adalah bagian dari refleksi
Saya mulai memahami bahwa refleksi seorang guru tidak selalu harus dilakukan sendirian.
Kadang refleksi terbaik justru datang ketika kita mau mendengarkan orang lain.
Termasuk murid.
Karena itu, mungkin setelah pembelajaran kita tidak hanya bertanya:
“Apakah materi hari ini sudah selesai?”
Tetapi:
“Bagian mana yang paling membantu kamu belajar?”
“Bagian mana yang paling sulit?”
“Apa yang membuat kamu nyaman untuk bertanya?”
“Apa yang membuat kamu memilih diam?”
“Apa yang sebaiknya saya lakukan berbeda pada pembelajaran berikutnya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya dapat membuka jendela yang selama ini mungkin belum kita lihat.
Guru tidak kehilangan wibawa ketika mau mendengarkan
Ada anggapan bahwa guru harus selalu menjadi sumber jawaban.
Tetapi saya semakin percaya bahwa guru juga perlu menjadi pendengar yang baik.
Mendengarkan murid bukan berarti menyerahkan kendali pembelajaran kepada mereka.
Bukan berarti semua keinginan murid harus diikuti.
Mendengarkan berarti memberikan ruang agar suara mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Karena murid bukan hanya penerima pembelajaran.
Mereka adalah manusia yang mengalami pembelajaran itu.
Dan pengalaman mereka penting.
Dari “mengajar” menuju “memahami”
Mungkin inilah perubahan kecil dalam cara pandang yang ingin saya bangun melalui Reflection Series.
Dari:
“Bagaimana saya mengajar?”
menjadi:
“Bagaimana murid belajar?”
Dari:
“Apa yang sudah saya sampaikan?”
menjadi:
“Apa yang benar-benar dipahami murid?”
Dari:
“Mengapa murid tidak aktif?”
menjadi:
“Apa yang membuat murid belum merasa aman atau memiliki ruang untuk berpartisipasi?”
Pertanyaan yang berbeda dapat membawa kita pada jawaban yang berbeda.
Dan jawaban yang berbeda dapat membawa kita pada tindakan yang berbeda.
Kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada murid
Di awal perjalanan ini, saya berbicara tentang kemerdekaan guru.
Hari ini saya mulai melihat hubungan yang lebih luas.
Guru yang merdeka tidak hanya memerdekakan dirinya untuk terus belajar. Ia juga membantu menciptakan ruang agar murid dapat tumbuh.
Murid perlu ruang untuk bertanya.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk salah.
Ruang untuk menyampaikan pendapat.
Ruang untuk menemukan kekuatannya.
Ruang untuk menjadi dirinya sendiri dalam proses belajar.
Dan mungkin, salah satu cara guru memberikan ruang itu adalah dengan mau mendengarkan.
Sebab kita tidak mungkin benar-benar memahami seseorang jika kita tidak bersedia mendengar suaranya.
Hari ini saya belajar untuk bergeser
Saya tidak harus selalu berdiri di tengah pembelajaran.
Kadang saya perlu bergeser sedikit.
Melihat dari sisi murid.
Mendengar dari tempat mereka berada.
Mencoba memahami apa yang mereka rasakan.
Bukan untuk kehilangan peran sebagai guru.
Tetapi agar saya dapat menjalankan peran itu dengan lebih baik.
Karena akhirnya saya menyadari:
Pembelajaran bukan hanya tentang apa yang guru ajarkan. Pembelajaran adalah tentang apa yang dialami, dipahami, dan dimaknai oleh murid.
Dan untuk mengetahuinya, saya perlu bertanya.
Saya perlu mendengar.
Saya perlu membuka diri.
Mungkin itulah langkah berikutnya dalam perjalanan refleksi saya.
Setelah berani melihat diri sendiri,
saya perlu berani melihat dunia dari mata murid.
“Guru yang reflektif tidak hanya bertanya, ‘Apa yang sudah saya ajarkan?’ Ia juga berani bertanya, ‘Apa yang sebenarnya dialami murid saya?’”
Pertanyaan refleksi hari ini
Jika murid saya diberi kesempatan menilai satu hal dari cara saya mengajar, menurut saya apa yang paling mungkin mereka katakan?
Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.
Referensi
Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.
Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.
Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.
Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.





.jpeg)