Ketika Murid Tidak Terlibat,
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)
22 Agustus 2026
Kemarin saya mengajak diri sendiri bergeser sedikit.
Tidak hanya melihat pembelajaran dari tempat saya berdiri sebagai guru, tetapi mencoba melihatnya dari mata murid.
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html
Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan yang sedikit lebih rumit:
“Ketika murid tidak terlibat dalam pembelajaran, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Saya sengaja menggunakan kata “terjadi”, bukan “salah”.
Karena di kelas, ketidakterlibatan murid dapat muncul dalam banyak bentuk.
Ada murid yang diam.
Ada yang tidak mengerjakan tugas.
Ada yang mengobrol dengan teman.
Ada yang bermain ketika guru menjelaskan.
Ada yang mengerjakan sesuatu di luar kegiatan pembelajaran.
Ada yang beberapa kali meminta izin keluar kelas.
Ada yang izin bahkan tidak kembali lagi ke kelas.
Ada yang asyik memulas wajah, melirik cermin berkali-kali, bahkan mengintip gawai yang disembunyikan dalam meja.
Sementara di sisi lain, kelompok atau murid yang lain tetap aktif mengikuti pembelajaran.
Situasi seperti ini sangat nyata dalam kehidupan seorang guru.
Dan tentu saja, tidak semuanya dapat dijelaskan dengan satu jawaban.
Ketika murid tidak terlibat
Ketika melihat murid mengobrol saat saya sedang menjelaskan, reaksi pertama mungkin sederhana:
“Mengapa kamu tidak memperhatikan?”
Ketika melihat murid bermain:
“Mengapa kamu tidak mengikuti kegiatan?”
Ketika seorang murid berkali-kali keluar kelas:
“Mengapa kamu tidak betah belajar di kelas?”
Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.
Tetapi setelah beberapa hari terakhir berbicara tentang refleksi, saya mencoba menambahkan satu pertanyaan lagi:
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Bukan untuk membenarkan semua perilaku.
Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri sebagai guru.
Tetapi untuk memahami situasi sebelum menentukan tindakan.
Tidak semua ketidakterlibatan memiliki penyebab yang sama
Penelitian tentang school engagement menunjukkan bahwa keterlibatan peserta didik bukanlah sesuatu yang hanya dapat dilihat dari satu perilaku. Fredricks, Blumenfeld, dan Paris menjelaskan engagement sebagai konstruk yang memiliki dimensi behavioral, emotional, dan cognitive engagement.
Artinya, keterlibatan murid bukan hanya soal apakah ia terlihat diam atau aktif.
Ada dimensi perilaku.
Ada keterlibatan emosional.
Ada pula keterlibatan kognitif.
Karena itu, seorang murid yang duduk tenang belum tentu sedang terlibat secara kognitif.
Sebaliknya, murid yang banyak berbicara juga belum tentu sedang tidak belajar.
Yang perlu kita lihat adalah apa yang sedang terjadi pada proses belajar mereka.
Tetapi bagaimana jika mereka memang sedang tidak belajar?
Ini bagian yang menurut saya penting untuk dikatakan dengan jujur.
Tidak semua perilaku murid harus kita cari pembenarannya.
Ada kalanya murid memang sedang memilih untuk tidak mengikuti kegiatan belajar.
Ada murid yang sudah memahami tugas tetapi memilih mengobrol.
Ada yang sengaja bermain.
Ada yang mengganggu temannya.
Ada yang keluar-masuk kelas tanpa kebutuhan yang jelas.
Dalam situasi seperti itu, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesepakatan belajar dan menjaga lingkungan kelas agar tetap kondusif.
Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.
Mendengarkan murid bukan berarti menghilangkan batas.
Dan pembelajaran yang berpusat pada murid bukan berarti guru kehilangan peran untuk mengelola kelas.
Justru di sinilah profesionalisme guru diuji.
Refleksi bukan berarti selalu menyalahkan diri sendiri
Saya merasa bagian ini penting dalam perjalanan Reflection Series.
Kadang ketika berbicara tentang refleksi, kita seolah-olah diarahkan pada kesimpulan:,
“Kalau murid tidak aktif, berarti gurunya harus memperbaiki diri.”
Tidak selalu demikian.
Refleksi yang sehat tidak mencari siapa yang salah.
Refleksi mencari apa yang dapat dipelajari dari situasi tersebut.
Maka ketika sebagian besar kelompok aktif bekerja, tetapi ada satu atau dua murid yang justru mengobrol atau bermain, saya tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa seluruh pembelajaran saya gagal.
Saya justru dapat bertanya:
Apa yang membuat kelompok lain dapat terlibat?
Apa yang berbeda pada murid yang tidak terlibat?
Apakah mereka memahami tugasnya?
Apakah mereka memiliki peran dalam kelompok?
Apakah tingkat tantangannya sesuai?
Apakah mereka merasa memiliki hubungan dengan kegiatan tersebut?
Atau memang ada faktor lain di luar pembelajaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya dari sekadar melihat perilaku menuju usaha memahami kondisi yang melatarbelakanginya.
Jangan buru-buru memberi label
Mungkin ini salah satu hal yang paling ingin saya pelajari sebagai guru.
Ketika seorang murid terus keluar kelas, saya bisa saja memberinya label:
“Tidak betah belajar.”
Ketika seorang murid sering mengobrol:
“Tidak serius.”
Ketika seorang murid tidak menyelesaikan tugas:
“Tidak bertanggung jawab.”
Tetapi sebuah perilaku belum tentu menceritakan seluruh pribadi seorang murid.
Karena itu, saya perlu berhati-hati.
Bukan berarti perilakunya dibiarkan.
Tetapi sebelum memberikan label, saya perlu mencoba memahami.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mungkin tugasnya terlalu mudah.
Mungkin terlalu sulit.
Mungkin ia tidak memahami instruksi.
Mungkin ia tidak menemukan makna dari aktivitas tersebut.
Mungkin ia lebih tertarik pada interaksi sosial.
Mungkin ia membutuhkan struktur yang lebih jelas.
Atau mungkin memang ia perlu belajar tentang tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Kita tidak akan tahu jika kita hanya melihat dari permukaan.
Guru perlu melihat kelas dengan lebih dari satu lensa
Stephen D. Brookfield mengingatkan guru untuk melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, perspektif kolega, serta teori dan penelitian.
Salah satu yang sangat relevan dengan pembahasan hari ini adalah melihat pembelajaran melalui mata murid.
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html
Pertanyaannya bukan hanya:
“Mengapa murid saya berperilaku seperti itu?”
Tetapi:
“Bagaimana murid mengalami pembelajaran yang saya rancang?”
Apakah instruksinya jelas?
Apakah aktivitasnya bermakna?
Apakah mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi?
Apakah mereka tahu apa yang diharapkan?
Apakah mereka mendapatkan tantangan yang sesuai?
Namun setelah melihat dari mata murid, saya juga perlu kembali melihat dari perspektif guru:
Apakah murid memahami bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap proses belajarnya?
Di sinilah refleksi menjadi seimbang.
Tidak semua persoalan berada di tangan guru.
Dan tidak semua persoalan berada di tangan murid.
Pengelolaan kelas juga bagian dari pembelajaran
Jacob Kounin, dalam kajiannya tentang pengelolaan kelas, menunjukkan pentingnya kemampuan guru memonitor apa yang terjadi di kelas dan menjaga keterlibatan murid dalam aktivitas pembelajaran.
Pengelolaan kelas bukan sekadar memberikan hukuman ketika terjadi perilaku yang mengganggu.
Pengelolaan kelas juga berkaitan dengan bagaimana guru menjaga keterlibatan, kelancaran aktivitas, transisi, dan perhatian terhadap apa yang terjadi di ruang kelas.
Ini mengingatkan saya bahwa refleksi terhadap perilaku murid harus berjalan bersama dengan refleksi terhadap pengelolaan pembelajaran.
Apakah instruksi saya jelas?
Apakah alur kegiatan terlalu panjang?
Apakah waktu menunggu terlalu banyak?
Apakah transisi antarkegiatan berjalan efektif?
Apakah setiap murid memiliki pekerjaan yang jelas?
Apakah saya mengetahui apa yang sedang dilakukan setiap kelompok?
Dan ketika ada murid yang mulai keluar dari jalur pembelajaran:
seberapa cepat saya menyadarinya dan meresponsnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada sekadar berkata:
“Anak-anak sekarang sulit diatur.”
Memahami bukan berarti membiarkan
Saya ingin mempertahankan satu prinsip ini:
Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.
Jika seorang murid memiliki alasan mengapa ia sulit terlibat, saya perlu memahami alasannya.
Tetapi setelah memahami, saya tetap perlu membantu murid belajar mengambil tanggung jawab.
Jika seorang murid terus mengobrol, saya perlu membantunya kembali pada kesepakatan belajar.
Jika ia tidak memahami tugas, saya perlu memberikan dukungan.
Jika ia merasa kegiatan tidak bermakna, saya perlu mencari cara menghubungkannya.
Jika ia memang memilih tidak terlibat, saya perlu membangun konsekuensi dan tanggung jawab yang jelas.
Refleksi tidak menghapus batas.
Refleksi justru membantu kita menentukan batas seperti apa yang tepat, kapan perlu mendampingi, dan kapan perlu memberikan tanggung jawab kepada murid.
Mungkin pertanyaan guru perlu diubah
Dulu kita mungkin bertanya:
“Mengapa murid saya tidak mau belajar?”
Sekarang saya ingin mencoba pertanyaan yang lebih hati-hati:
“Apa yang saya lihat?”
“Apa yang saya belum tahu?”
“Apa kemungkinan penyebabnya?”
“Apa bukti yang saya miliki?”
“Apa yang dapat saya ubah?”
“Apa yang perlu menjadi tanggung jawab murid?”
“Tindakan apa yang paling tepat?”
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat refleksi menjadi lebih sistematis.
Korthagen melalui model refleksi ALACT juga menekankan pentingnya melihat kembali pengalaman, menyadari aspek-aspek penting, mencari alternatif tindakan, kemudian mencobanya kembali. Refleksi bukan sekadar mencari quick fix, tetapi berusaha memahami persoalan yang mendasarinya. (Korthagen)
Karena kelas bukan laboratorium yang selalu sempurna
Saya kira inilah salah satu keindahan profesi guru.
Kita dapat merancang pembelajaran dengan sebaik mungkin.
Tetapi ketika pintu kelas dibuka, kita berhadapan dengan manusia.
Dengan karakter yang berbeda.
Dengan pengalaman yang berbeda.
Dengan kebutuhan yang berbeda.
Dengan tingkat kesiapan yang berbeda.
Dan karena itulah tidak ada satu strategi yang selalu bekerja dengan cara yang sama pada setiap murid.
Guru perlu terus mengamati.
Mencoba.
Mengevaluasi.
Menyesuaikan.
Dan kembali mencoba.
Bukan karena kita tidak kompeten.
Tetapi karena kelas selalu bergerak.
Hari ini saya belajar untuk tidak terburu-buru
Tidak terburu-buru menyimpulkan.
Tidak terburu-buru memberi label.
Tidak terburu-buru menyalahkan diri sendiri.
Dan tidak pula terburu-buru menyalahkan murid.
Saya ingin belajar berhenti sejenak dan bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di kelas saya?”
Mungkin ada sesuatu yang perlu saya ubah.
Mungkin ada sesuatu yang perlu saya jelaskan.
Mungkin ada murid yang perlu saya dengarkan.
Mungkin ada aturan yang perlu ditegaskan kembali.
Atau mungkin ada tanggung jawab yang memang perlu dikembalikan kepada murid.
Semuanya membutuhkan kebijaksanaan untuk dibedakan.
Dan mungkin, itulah salah satu makna menjadi guru yang reflektif:
bukan guru yang selalu memiliki jawaban, tetapi guru yang tahu pertanyaan apa yang harus diajukan sebelum mengambil keputusan.
Kemerdekaan guru bukan berarti bebas melakukan apa saja.
Kemerdekaan guru adalah kemampuan untuk menentukan tindakan secara sadar, berdasarkan refleksi, pengetahuan, dan tanggung jawab profesional.
Dan kemerdekaan murid pun bukan berarti bebas melakukan apa saja di dalam kelas.
Murid juga perlu belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.
“Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Memahami berarti mencari tahu sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.”
Pertanyaan refleksi hari ini
Ketika ada murid yang tidak terlibat dalam pembelajaran, apakah saya sudah membedakan antara apa yang saya lihat, apa yang saya asumsikan, dan apa yang benar-benar saya ketahui?
🌱 Langkah kecil hari ini
Pilih satu situasi ketidakterlibatan murid yang pernah terjadi di kelas.
Tuliskan tiga kolom sederhana:
Yang saya lihat → Kemungkinan penyebab → Tindakan yang akan saya coba
Jangan langsung memberi label.
Jangan langsung menyalahkan.
Amati. Pahami. Bertindak. Refleksikan kembali.
Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.
Referensi
Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. Edisi ini secara eksplisit membahas empat lensa refleksi kritis, termasuk melihat praktik melalui perspektif peserta didik. (Wiley-VCH)
Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109. https://doi.org/10.3102/00346543074001059. Artikel ini membahas keterlibatan peserta didik sebagai konstruk multidimensi yang mencakup aspek behavioral, emotional, dan cognitive. (DOI)
Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates. Pendekatan Korthagen menempatkan refleksi sistematis sebagai bagian penting dari pengembangan profesional guru. (Korthagen)
Kounin, J. S. (1970). Discipline and Group Management in Classrooms. Holt, Rinehart and Winston. Karya ini merupakan salah satu rujukan klasik dalam penelitian tentang pengelolaan kelas, termasuk keterlibatan murid dan pencegahan perilaku yang mengganggu proses belajar. (Google Buku)
==========================================================================
Reflection Series 1-4 dapat dibaca kembali
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html Tentang Kemerdekaan Guru
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html Guru mengenal Diri Sendiri
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html Guru yang Terus Bertumbuh
https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html Keberanian untuk Jujur
=========================================================
Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.
