Sabtu, 22 Agustus 2026

Ketika Murid Tidak Terlibat, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)

 


Ketika Murid Tidak Terlibat, 
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)

22 Agustus 2026

Kemarin saya mengajak diri sendiri bergeser sedikit.

Tidak hanya melihat pembelajaran dari tempat saya berdiri sebagai guru, tetapi mencoba melihatnya dari mata murid

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html

Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan yang sedikit lebih rumit:

“Ketika murid tidak terlibat dalam pembelajaran, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Saya sengaja menggunakan kata “terjadi”, bukan “salah”.

Karena di kelas, ketidakterlibatan murid dapat muncul dalam banyak bentuk.

Ada murid yang diam.

Ada yang tidak mengerjakan tugas.

Ada yang mengobrol dengan teman.

Ada yang bermain ketika guru menjelaskan.

Ada yang mengerjakan sesuatu di luar kegiatan pembelajaran.

Ada yang beberapa kali meminta izin keluar kelas.

Ada yang izin bahkan tidak kembali lagi ke kelas.

Ada yang asyik memulas wajah, melirik cermin berkali-kali, bahkan mengintip gawai yang disembunyikan dalam meja.

Sementara di sisi lain, kelompok atau murid yang lain tetap aktif mengikuti pembelajaran.

Situasi seperti ini sangat nyata dalam kehidupan seorang guru.

Dan tentu saja, tidak semuanya dapat dijelaskan dengan satu jawaban.

Ketika murid tidak terlibat

Ketika melihat murid mengobrol saat saya sedang menjelaskan, reaksi pertama mungkin sederhana:

“Mengapa kamu tidak memperhatikan?”

Ketika melihat murid bermain:

“Mengapa kamu tidak mengikuti kegiatan?”

Ketika seorang murid berkali-kali keluar kelas:

“Mengapa kamu tidak betah belajar di kelas?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.

Tetapi setelah beberapa hari terakhir berbicara tentang refleksi, saya mencoba menambahkan satu pertanyaan lagi:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Bukan untuk membenarkan semua perilaku.

Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri sebagai guru.

Tetapi untuk memahami situasi sebelum menentukan tindakan.

Tidak semua ketidakterlibatan memiliki penyebab yang sama

Penelitian tentang school engagement menunjukkan bahwa keterlibatan peserta didik bukanlah sesuatu yang hanya dapat dilihat dari satu perilaku. Fredricks, Blumenfeld, dan Paris menjelaskan engagement sebagai konstruk yang memiliki dimensi behavioral, emotional, dan cognitive engagement.

Artinya, keterlibatan murid bukan hanya soal apakah ia terlihat diam atau aktif.

Ada dimensi perilaku.

Ada keterlibatan emosional.

Ada pula keterlibatan kognitif.

Karena itu, seorang murid yang duduk tenang belum tentu sedang terlibat secara kognitif.

Sebaliknya, murid yang banyak berbicara juga belum tentu sedang tidak belajar.

Yang perlu kita lihat adalah apa yang sedang terjadi pada proses belajar mereka

Tetapi bagaimana jika mereka memang sedang tidak belajar?

Ini bagian yang menurut saya penting untuk dikatakan dengan jujur.

Tidak semua perilaku murid harus kita cari pembenarannya.

Ada kalanya murid memang sedang memilih untuk tidak mengikuti kegiatan belajar.

Ada murid yang sudah memahami tugas tetapi memilih mengobrol.

Ada yang sengaja bermain.

Ada yang mengganggu temannya.

Ada yang keluar-masuk kelas tanpa kebutuhan yang jelas.

Dalam situasi seperti itu, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesepakatan belajar dan menjaga lingkungan kelas agar tetap kondusif.

Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.

Mendengarkan murid bukan berarti menghilangkan batas.

Dan pembelajaran yang berpusat pada murid bukan berarti guru kehilangan peran untuk mengelola kelas.

Justru di sinilah profesionalisme guru diuji.

Refleksi bukan berarti selalu menyalahkan diri sendiri

Saya merasa bagian ini penting dalam perjalanan Reflection Series.

Kadang ketika berbicara tentang refleksi, kita seolah-olah diarahkan pada kesimpulan:,

“Kalau murid tidak aktif, berarti gurunya harus memperbaiki diri.”

Tidak selalu demikian.

Refleksi yang sehat tidak mencari siapa yang salah.

Refleksi mencari apa yang dapat dipelajari dari situasi tersebut.

Maka ketika sebagian besar kelompok aktif bekerja, tetapi ada satu atau dua murid yang justru mengobrol atau bermain, saya tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa seluruh pembelajaran saya gagal.

Saya justru dapat bertanya:

Apa yang membuat kelompok lain dapat terlibat?

Apa yang berbeda pada murid yang tidak terlibat?

Apakah mereka memahami tugasnya?

Apakah mereka memiliki peran dalam kelompok?

Apakah tingkat tantangannya sesuai?

Apakah mereka merasa memiliki hubungan dengan kegiatan tersebut?

Atau memang ada faktor lain di luar pembelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya dari sekadar melihat perilaku menuju usaha memahami kondisi yang melatarbelakanginya.

Jangan buru-buru memberi label

Mungkin ini salah satu hal yang paling ingin saya pelajari sebagai guru.

Ketika seorang murid terus keluar kelas, saya bisa saja memberinya label:

“Tidak betah belajar.”

Ketika seorang murid sering mengobrol:

“Tidak serius.”

Ketika seorang murid tidak menyelesaikan tugas:

“Tidak bertanggung jawab.”

Tetapi sebuah perilaku belum tentu menceritakan seluruh pribadi seorang murid.

Karena itu, saya perlu berhati-hati.

Bukan berarti perilakunya dibiarkan.

Tetapi sebelum memberikan label, saya perlu mencoba memahami.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mungkin tugasnya terlalu mudah.

Mungkin terlalu sulit.

Mungkin ia tidak memahami instruksi.

Mungkin ia tidak menemukan makna dari aktivitas tersebut.

Mungkin ia lebih tertarik pada interaksi sosial.

Mungkin ia membutuhkan struktur yang lebih jelas.

Atau mungkin memang ia perlu belajar tentang tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.

Kita tidak akan tahu jika kita hanya melihat dari permukaan.

Guru perlu melihat kelas dengan lebih dari satu lensa

Stephen D. Brookfield mengingatkan guru untuk melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, perspektif kolega, serta teori dan penelitian.

Salah satu yang sangat relevan dengan pembahasan hari ini adalah melihat pembelajaran melalui mata murid

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html

Pertanyaannya bukan hanya:

“Mengapa murid saya berperilaku seperti itu?”

Tetapi: 

        “Bagaimana murid mengalami pembelajaran yang saya rancang?”

Apakah instruksinya jelas?

Apakah aktivitasnya bermakna?

Apakah mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi?

Apakah mereka tahu apa yang diharapkan?

Apakah mereka mendapatkan tantangan yang sesuai?

Namun setelah melihat dari mata murid, saya juga perlu kembali melihat dari perspektif guru:

Apakah murid memahami bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap proses belajarnya?

Di sinilah refleksi menjadi seimbang.

Tidak semua persoalan berada di tangan guru.

Dan tidak semua persoalan berada di tangan murid.

Pengelolaan kelas juga bagian dari pembelajaran

Jacob Kounin, dalam kajiannya tentang pengelolaan kelas, menunjukkan pentingnya kemampuan guru memonitor apa yang terjadi di kelas dan menjaga keterlibatan murid dalam aktivitas pembelajaran.

Pengelolaan kelas bukan sekadar memberikan hukuman ketika terjadi perilaku yang mengganggu.

Pengelolaan kelas juga berkaitan dengan bagaimana guru menjaga keterlibatan, kelancaran aktivitas, transisi, dan perhatian terhadap apa yang terjadi di ruang kelas.

Ini mengingatkan saya bahwa refleksi terhadap perilaku murid harus berjalan bersama dengan refleksi terhadap pengelolaan pembelajaran.

Apakah instruksi saya jelas?

Apakah alur kegiatan terlalu panjang?

Apakah waktu menunggu terlalu banyak?

Apakah transisi antarkegiatan berjalan efektif?

Apakah setiap murid memiliki pekerjaan yang jelas?

Apakah saya mengetahui apa yang sedang dilakukan setiap kelompok?

Dan ketika ada murid yang mulai keluar dari jalur pembelajaran:

seberapa cepat saya menyadarinya dan meresponsnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada sekadar berkata:

“Anak-anak sekarang sulit diatur.”

Memahami bukan berarti membiarkan

Saya ingin mempertahankan satu prinsip ini:

Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.

Jika seorang murid memiliki alasan mengapa ia sulit terlibat, saya perlu memahami alasannya.

Tetapi setelah memahami, saya tetap perlu membantu murid belajar mengambil tanggung jawab.

Jika seorang murid terus mengobrol, saya perlu membantunya kembali pada kesepakatan belajar.

Jika ia tidak memahami tugas, saya perlu memberikan dukungan.

Jika ia merasa kegiatan tidak bermakna, saya perlu mencari cara menghubungkannya.

Jika ia memang memilih tidak terlibat, saya perlu membangun konsekuensi dan tanggung jawab yang jelas.

Refleksi tidak menghapus batas.

Refleksi justru membantu kita menentukan batas seperti apa yang tepat, kapan perlu mendampingi, dan kapan perlu memberikan tanggung jawab kepada murid.

Mungkin pertanyaan guru perlu diubah

Dulu kita mungkin bertanya:

“Mengapa murid saya tidak mau belajar?”

Sekarang saya ingin mencoba pertanyaan yang lebih hati-hati:

“Apa yang saya lihat?”

“Apa yang saya belum tahu?”

“Apa kemungkinan penyebabnya?”

“Apa bukti yang saya miliki?”

“Apa yang dapat saya ubah?”

“Apa yang perlu menjadi tanggung jawab murid?”

“Tindakan apa yang paling tepat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat refleksi menjadi lebih sistematis.

Korthagen melalui model refleksi ALACT juga menekankan pentingnya melihat kembali pengalaman, menyadari aspek-aspek penting, mencari alternatif tindakan, kemudian mencobanya kembali. Refleksi bukan sekadar mencari quick fix, tetapi berusaha memahami persoalan yang mendasarinya. (Korthagen)

Karena kelas bukan laboratorium yang selalu sempurna

Saya kira inilah salah satu keindahan profesi guru.

Kita dapat merancang pembelajaran dengan sebaik mungkin.

Tetapi ketika pintu kelas dibuka, kita berhadapan dengan manusia.

Dengan karakter yang berbeda.

Dengan pengalaman yang berbeda.

Dengan kebutuhan yang berbeda.

Dengan tingkat kesiapan yang berbeda.

Dan karena itulah tidak ada satu strategi yang selalu bekerja dengan cara yang sama pada setiap murid.

Guru perlu terus mengamati.

Mencoba.

Mengevaluasi.

Menyesuaikan.

Dan kembali mencoba.

Bukan karena kita tidak kompeten.

Tetapi karena kelas selalu bergerak.

Hari ini saya belajar untuk tidak terburu-buru

Tidak terburu-buru menyimpulkan.

Tidak terburu-buru memberi label.

Tidak terburu-buru menyalahkan diri sendiri.

Dan tidak pula terburu-buru menyalahkan murid.

Saya ingin belajar berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di kelas saya?”

Mungkin ada sesuatu yang perlu saya ubah.

Mungkin ada sesuatu yang perlu saya jelaskan.

Mungkin ada murid yang perlu saya dengarkan.

Mungkin ada aturan yang perlu ditegaskan kembali.

Atau mungkin ada tanggung jawab yang memang perlu dikembalikan kepada murid.

Semuanya membutuhkan kebijaksanaan untuk dibedakan.

Dan mungkin, itulah salah satu makna menjadi guru yang reflektif:

bukan guru yang selalu memiliki jawaban, tetapi guru yang tahu pertanyaan apa yang harus diajukan sebelum mengambil keputusan.

Kemerdekaan guru bukan berarti bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan guru adalah kemampuan untuk menentukan tindakan secara sadar, berdasarkan refleksi, pengetahuan, dan tanggung jawab profesional.

Dan kemerdekaan murid pun bukan berarti bebas melakukan apa saja di dalam kelas.

Murid juga perlu belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

“Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Memahami berarti mencari tahu sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika ada murid yang tidak terlibat dalam pembelajaran, apakah saya sudah membedakan antara apa yang saya lihat, apa yang saya asumsikan, dan apa yang benar-benar saya ketahui?

🌱 Langkah kecil hari ini

Pilih satu situasi ketidakterlibatan murid yang pernah terjadi di kelas.

Tuliskan tiga kolom sederhana:

Yang saya lihatKemungkinan penyebabTindakan yang akan saya coba

Jangan langsung memberi label.

Jangan langsung menyalahkan.

Amati. Pahami. Bertindak. Refleksikan kembali.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. Edisi ini secara eksplisit membahas empat lensa refleksi kritis, termasuk melihat praktik melalui perspektif peserta didik. (Wiley-VCH)

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109. https://doi.org/10.3102/00346543074001059. Artikel ini membahas keterlibatan peserta didik sebagai konstruk multidimensi yang mencakup aspek behavioral, emotional, dan cognitive. (DOI)

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates. Pendekatan Korthagen menempatkan refleksi sistematis sebagai bagian penting dari pengembangan profesional guru. (Korthagen)

Kounin, J. S. (1970). Discipline and Group Management in Classrooms. Holt, Rinehart and Winston. Karya ini merupakan salah satu rujukan klasik dalam penelitian tentang pengelolaan kelas, termasuk keterlibatan murid dan pencegahan perilaku yang mengganggu proses belajar. (Google Buku)

==========================================================================

Reflection Series 1-4 dapat dibaca kembali 

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html Tentang Kemerdekaan Guru

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html Guru mengenal Diri Sendiri

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html Guru yang Terus Bertumbuh

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html Keberanian untuk Jujur

=========================================================

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.



Jumat, 21 Agustus 2026

Belajar Melihat Pembelajaran dari Mata Murid (#05)

 

Belajar Melihat Pembelajaran 
dari 
Mata Murid (#05)

21 Agustus 2026

Empat hari terakhir saya banyak berbicara kepada diri sendiri.

Tentang kemerdekaan. 

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Tentang mengenal diri.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Tentang terus bertumbuh.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Dan tentang keberanian untuk jujur melihat praktik kita sebagai guru. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html

Hari ini saya ingin menggeser pandangan.

Bukan lagi hanya bertanya:

“Bagaimana saya mengajar?”

Tetapi mencoba bertanya:

“Bagaimana murid mengalami pembelajaran saya?”

Pertanyaan ini ternyata tidak sederhana.

Karena selama ini, tanpa sadar, kita sering melihat kelas dari tempat kita berdiri.

Kita melihat rencana pembelajaran yang sudah kita siapkan.

Kita melihat materi yang sudah kita sampaikan.

Kita melihat aktivitas yang sudah kita rancang.

Kita melihat tugas yang sudah diberikan.

Kita melihat asesmen yang sudah dilakukan.

Lalu kita merasa:

“Saya sudah mengajar.”

Tetapi apakah itu berarti murid sudah belajar?

Mengajar tidak selalu berarti membuat murid belajar

Ada perbedaan antara apa yang guru lakukan dan apa yang dialami murid.

Guru mungkin merasa sudah menjelaskan dengan baik.

Tetapi murid mungkin masih bingung.

Guru mungkin merasa aktivitasnya menarik.

Tetapi ada murid yang merasa tidak nyaman.

Guru mungkin merasa sudah memberi kesempatan bertanya.

Tetapi mungkin hanya murid tertentu yang berani menggunakannya.

Guru mungkin merasa kelasnya aktif.

Tetapi bisa saja aktivitas itu hanya didominasi oleh beberapa murid.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat guru merasa bersalah.

Justru sebaliknya.

Pertanyaan ini mengajak kita melihat pembelajaran dari perspektif yang lebih utuh.

Dari mata murid.

Mencoba melihat dari sisi yang berbeda

Saya teringat kembali pada gagasan Stephen D. Brookfield tentang critical reflection.

Salah satu lensa yang ia tawarkan kepada guru adalah student eyes—melihat praktik pembelajaran dari perspektif peserta didik.

Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan bahwa pengalaman guru dan pengalaman murid tidak selalu sama.

Apa yang bagi kita sederhana, mungkin terasa sulit bagi murid.

Apa yang menurut kita jelas, mungkin masih membingungkan.

Apa yang kita anggap sebagai motivasi, mungkin justru dirasakan sebagai tekanan.

Dan apa yang kita anggap sebagai sebuah kesempatan, mungkin belum tentu dirasakan demikian oleh semua murid.

Maka pertanyaan reflektifnya bukan hanya:

“Apa yang sudah saya lakukan?”

Tetapi:

“Apa yang dirasakan dan dialami murid ketika saya melakukannya?”

Pernahkah kita benar-benar bertanya kepada murid?

Kadang kita sibuk mencari strategi pembelajaran dari berbagai sumber.

Membaca buku.

Mengikuti pelatihan.

Mencoba teknologi baru.

Mempelajari model pembelajaran.

Mendesain aktivitas yang inovatif.

Semua itu penting.

Tetapi ada satu sumber informasi yang sering kali paling dekat dengan kita:

murid itu sendiri.

Mereka dapat memberi tahu kita sesuatu yang tidak selalu terlihat dari meja guru.

Mereka dapat mengatakan:

“Saya lebih mudah memahami ketika Ibu memberikan contoh.”

Atau:

“Saya sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut salah.”

Atau:

“Saya senang bekerja dalam kelompok, tetapi saya sering tidak mendapat kesempatan berbicara.”

Atau bahkan:

“Saya tidak mengerti, tetapi saya malu mengatakan bahwa saya tidak mengerti.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi cermin yang sangat berharga.

Mendengarkan adalah bagian dari refleksi

Saya mulai memahami bahwa refleksi seorang guru tidak selalu harus dilakukan sendirian.

Kadang refleksi terbaik justru datang ketika kita mau mendengarkan orang lain.

Termasuk murid.

Karena itu, mungkin setelah pembelajaran kita tidak hanya bertanya:

“Apakah materi hari ini sudah selesai?”

Tetapi:

“Bagian mana yang paling membantu kamu belajar?”

“Bagian mana yang paling sulit?”

“Apa yang membuat kamu nyaman untuk bertanya?”

“Apa yang membuat kamu memilih diam?”

“Apa yang sebaiknya saya lakukan berbeda pada pembelajaran berikutnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya dapat membuka jendela yang selama ini mungkin belum kita lihat.

Guru tidak kehilangan wibawa ketika mau mendengarkan

Ada anggapan bahwa guru harus selalu menjadi sumber jawaban.

Tetapi saya semakin percaya bahwa guru juga perlu menjadi pendengar yang baik.

Mendengarkan murid bukan berarti menyerahkan kendali pembelajaran kepada mereka.

Bukan berarti semua keinginan murid harus diikuti.

Mendengarkan berarti memberikan ruang agar suara mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Karena murid bukan hanya penerima pembelajaran.

Mereka adalah manusia yang mengalami pembelajaran itu.

Dan pengalaman mereka penting.

Dari “mengajar” menuju “memahami”

Mungkin inilah perubahan kecil dalam cara pandang yang ingin saya bangun melalui Reflection Series.

Dari:

“Bagaimana saya mengajar?”

menjadi:

“Bagaimana murid belajar?”

Dari:

“Apa yang sudah saya sampaikan?”

menjadi:

“Apa yang benar-benar dipahami murid?”

Dari:

“Mengapa murid tidak aktif?”

menjadi:

“Apa yang membuat murid belum merasa aman atau memiliki ruang untuk berpartisipasi?”

Pertanyaan yang berbeda dapat membawa kita pada jawaban yang berbeda.

Dan jawaban yang berbeda dapat membawa kita pada tindakan yang berbeda.

Kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada murid

Di awal perjalanan ini, saya berbicara tentang kemerdekaan guru.

Hari ini saya mulai melihat hubungan yang lebih luas.

Guru yang merdeka tidak hanya memerdekakan dirinya untuk terus belajar. Ia juga membantu menciptakan ruang agar murid dapat tumbuh.

Murid perlu ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk salah.

Ruang untuk menyampaikan pendapat.

Ruang untuk menemukan kekuatannya.

Ruang untuk menjadi dirinya sendiri dalam proses belajar.

Dan mungkin, salah satu cara guru memberikan ruang itu adalah dengan mau mendengarkan.

Sebab kita tidak mungkin benar-benar memahami seseorang jika kita tidak bersedia mendengar suaranya.

Hari ini saya belajar untuk bergeser

Saya tidak harus selalu berdiri di tengah pembelajaran.

Kadang saya perlu bergeser sedikit.

Melihat dari sisi murid.

Mendengar dari tempat mereka berada.

Mencoba memahami apa yang mereka rasakan.

Bukan untuk kehilangan peran sebagai guru.

Tetapi agar saya dapat menjalankan peran itu dengan lebih baik.

Karena akhirnya saya menyadari:

Pembelajaran bukan hanya tentang apa yang guru ajarkan. Pembelajaran adalah tentang apa yang dialami, dipahami, dan dimaknai oleh murid.

Dan untuk mengetahuinya, saya perlu bertanya.

Saya perlu mendengar.

Saya perlu membuka diri.

Mungkin itulah langkah berikutnya dalam perjalanan refleksi saya.

Setelah berani melihat diri sendiri,

saya perlu berani melihat dunia dari mata murid.

“Guru yang reflektif tidak hanya bertanya, ‘Apa yang sudah saya ajarkan?’ Ia juga berani bertanya, ‘Apa yang sebenarnya dialami murid saya?’”

Pertanyaan refleksi hari ini

Jika murid saya diberi kesempatan menilai satu hal dari cara saya mengajar, menurut saya apa yang paling mungkin mereka katakan?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Pada akhir pembelajaran, tanyakan kepada murid hanya satu pertanyaan: “Apa satu hal yang membantu kamu belajar hari ini, dan apa satu hal yang sebaiknya saya perbaiki?” Dengarkan jawabannya tanpa langsung membela diri.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.



Kamis, 20 Agustus 2026

Refleksi Membutuhkan Kejujuran: Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

 


Refleksi Membutuhkan Kejujuran:  
Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

20 Agustus 2026

Tiga hari terakhir saya mengajak diri sendiri melakukan perjalanan kecil.

Pada 17 Agustus, saya bertanya tentang kemerdekaan seorang guruhttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Pada 18 Agustus, saya bertanya apakah sebelum ingin mengubah murid, saya sudah berani mengenal diri sendirihttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Kemarin, 19 Agustus, saya belajar bahwa prestasi bukanlah garis akhir. Seorang guru tetap perlu bertumbuh, bahkan ketika ia telah memiliki banyak pengalaman dan pencapaian. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Hari ini saya sampai pada satu kesadaran:

Untuk dapat berefleksi dengan sungguh-sungguh, seorang guru harus berani jujur kepada dirinya sendiri.

Bukan kejujuran yang membuat kita merendahkan diri.

Bukan pula kejujuran untuk mencari-cari kesalahan.

Tetapi keberanian untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak semua yang kita lakukan selalu berhasil

Sebagai guru, tentu kita ingin pembelajaran kita berhasil.

Kita merancang kegiatan.

Menyiapkan media.

Memikirkan strategi.

Menyusun asesmen.

Kemudian masuk ke kelas dengan harapan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tetapi kenyataan di kelas terkadang berbeda.

Ada murid yang antusias.

Ada yang diam.

Ada yang cepat memahami.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Ada kegiatan yang ternyata berhasil di luar dugaan.

Ada pula kegiatan yang menurut kita sudah bagus, tetapi ternyata belum memberikan dampak seperti yang kita harapkan.

Pada titik seperti ini, kita memiliki pilihan.

Kita bisa mencari alasan.

Atau kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pertanyaan kedua membutuhkan keberanian.

Sebab terkadang jawabannya bukan tentang murid.

Bukan tentang fasilitas.

Bukan tentang waktu.

Bukan tentang keadaan.

Kadang jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Refleksi bukan mencari siapa yang salah

Saya semakin memahami bahwa refleksi bukanlah proses mencari siapa yang harus disalahkan.

Refleksi adalah proses mencari apa yang dapat dipelajari.

Ketika sebuah pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan, saya tidak ingin berhenti pada kalimat:

“Murid saya kurang aktif.”

Saya ingin melanjutkannya:

Mengapa mereka kurang aktif?

Apakah pertanyaannya terlalu sulit?

Apakah saya terlalu banyak berbicara?

Apakah saya belum memberikan ruang yang cukup?

Apakah aktivitasnya sesuai dengan kebutuhan mereka?

Atau mungkin saya sendiri belum benar-benar memahami apa yang mereka perlukan?

Pertanyaan seperti ini membuat kita bergerak dari menilai menuju memahami.

Dan dari memahami, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki.

Korthagen: melihat kembali sebelum melangkah lagi

Dalam pengembangan profesional guru, Fred Korthagen mengembangkan ALACT model, sebuah siklus refleksi yang terdiri dari lima tahap: Action, Looking back on the action, Awareness of essential aspects, Creating alternative methods of action, dan Trial.

Saya melihat model ini sebagai pengingat sederhana bahwa refleksi bukan sekadar berhenti pada pengalaman.

Kita mengalami sesuatu.

Kemudian kita melihat kembali apa yang terjadi.

Kita mencoba memahami hal-hal penting di balik pengalaman tersebut.

Kita memikirkan alternatif.

Lalu kita mencoba kembali dengan tindakan yang baru.

Dengan demikian, pengalaman tidak berhenti menjadi pengalaman.

Ia berubah menjadi pembelajaran.

Dan pembelajaran kemudian melahirkan tindakan baru.

Bagian tersulit adalah melihat diri sendiri

Melihat kembali sebuah peristiwa mungkin mudah.

Yang sulit adalah melihat peran kita sendiri di dalamnya.

Apalagi ketika kita sudah memiliki pengalaman.

Apalagi ketika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan cara tertentu.

Apalagi ketika sebelumnya cara tersebut pernah berhasil.

Di sinilah refleksi menjadi penting.

Kita perlu bertanya:

Apakah saya masih melakukan ini karena memang efektif, atau karena saya sudah terbiasa?

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi bisa sangat mengganggu kenyamanan.

Sebab kadang kita menemukan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap benar ternyata perlu ditinjau kembali.

Dan menurut saya, tidak apa-apa.

Guru tidak kehilangan wibawa hanya karena mengakui bahwa dirinya masih belajar.

Justru keberanian untuk mengatakan “saya perlu memperbaiki ini” adalah bagian dari profesionalisme.

Bahkan keberhasilan pun perlu direfleksikan

Refleksi tidak hanya dilakukan ketika kita gagal.

Keberhasilan pun perlu ditanyakan kembali.

Ketika sebuah inovasi pembelajaran berhasil, kita bisa bertanya:

Mengapa ini berhasil?

Apa yang sebenarnya membuat murid terlibat?

Bagian mana yang paling memberikan dampak?

Apa yang dapat dipertahankan?

Apa yang masih perlu diperbaiki?

Dengan cara itu, keberhasilan tidak membuat kita berhenti.

Keberhasilan justru menjadi bahan untuk belajar lebih jauh.

Bagi saya, inilah mengapa Reflection Series tidak lahir hanya dari pengalaman-pengalaman yang kurang berhasil.

Refleksi juga lahir dari keinginan untuk memahami mengapa sesuatu berhasil dan bagaimana keberhasilan tersebut dapat terus dikembangkan.

Kejujuran adalah bentuk kemerdekaan

Jika pada artikel pertama saya berbicara tentang kemerdekaan, hari ini saya semakin memahami bahwa ada bentuk kemerdekaan lain yang sangat penting bagi seorang guru:

kemerdekaan untuk jujur kepada diri sendiri.

Merdeka untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Merdeka untuk mengatakan:

“Cara saya belum berhasil.”

Merdeka untuk menerima:

“Mungkin saya perlu mendengarkan murid lebih banyak.”

Dan kemudian memiliki keberanian untuk berkata:

“Saya akan mencoba lagi dengan cara yang lebih baik.”

Itulah mengapa saya tidak melihat refleksi sebagai kegiatan untuk melemahkan rasa percaya diri guru.

Sebaliknya.

Refleksi menjaga rasa percaya diri agar tetap disertai kerendahan hati.

Kita boleh percaya pada kemampuan kita.

Kita boleh bangga atas pencapaian kita.

Kita boleh bersyukur atas berbagai kesempatan yang telah diberikan.

Tetapi kita tetap perlu menyediakan ruang untuk bertanya:

“Apa yang belum saya lihat?”

Mungkin pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan terpenting dalam perjalanan seorang guru.

Karena guru yang reflektif tidak takut melihat kenyataan

Saya mulai menyadari bahwa menjadi guru reflektif bukan berarti setiap hari harus menemukan kesalahan dalam diri sendiri.

Bukan.

Refleksi berarti mampu melihat pengalaman secara utuh.

Ada yang berhasil.

Ada yang belum.

Ada kekuatan.

Ada keterbatasan.

Ada pencapaian.

Ada ruang untuk berkembang.

Semuanya diterima sebagai bagian dari perjalanan.

Dan setelah melihatnya dengan jujur, kita memilih:

apa yang akan kita lakukan berikutnya?

Mungkin itulah inti refleksi.

Bukan berhenti pada:

“Apa yang terjadi?”

Tetapi bergerak menuju:

“Apa yang saya pelajari dari apa yang terjadi?”

Dan kemudian:

“Apa yang akan saya lakukan setelah mempelajarinya?”

Hari ini saya belajar satu hal

Guru tidak harus selalu terlihat sempurna.

Guru tidak harus selalu memiliki jawaban.

Guru bahkan tidak harus selalu berhasil.

Tetapi guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dari apa yang dialaminya.

Karena ketika kita berani jujur kepada diri sendiri, kita tidak sedang meruntuhkan diri.

Kita sedang membuka pintu untuk bertumbuh.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan profesional yang paling sederhana:

berani melihat diri sendiri tanpa topeng, menerima apa adanya, lalu memilih untuk memperbaikinya.

Dan mungkin, setelah kita berani melihat diri sendiri dengan jujur, kita akan lebih mampu melihat murid dengan lebih utuh.

Perjalanan itu masih panjang.

Kemarin kita berhenti.

Kemudian kita mengenal diri.

Lalu kita memilih bertumbuh.

Hari ini kita belajar untuk jujur.

Besok, mungkin saatnya kita belajar mendengarkan.

“Refleksi bukan keberanian untuk menemukan bahwa kita selalu benar. Refleksi adalah keberanian untuk melihat bahwa kita masih bisa belajar.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika pembelajaran saya tidak berjalan sesuai harapan, apakah saya lebih sering mencari alasan atau mencari pelajaran?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Ingat satu kejadian pembelajaran yang belum berjalan sesuai harapan. Jangan mencari siapa yang salah. Tuliskan tiga hal: apa yang terjadi, apa yang saya pelajari, dan apa yang akan saya coba berbeda berikutnya.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Korthagen, F. A. J., & Kessels, J. W. M. (1999). Linking theory and practice: Changing the pedagogy of teacher education. Educational Researcher, 28(4), 4–17.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 



Rabu, 19 Agustus 2026

Menjadi Guru yang Lebih Baik daripada Kemarin (#03)


19 Agustus 2026

Kemarin saya bertanya:

“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”

Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan sederhana:

“Setelah mengenal diri, apa yang akan saya lakukan dengan kesadaran itu?”

Bagi saya, jawabannya bukan menjadi sempurna.

Jawabannya adalah:

menjadi sedikit lebih baik daripada diri saya yang kemarin.

Kita tidak harus berhenti bertumbuh

Dalam perjalanan menjadi guru, saya bersyukur pernah mendapatkan berbagai kesempatan untuk berkarya, berinovasi, mengikuti kompetisi, dan meraih beberapa pencapaian.

Setiap keberhasilan tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Tetapi semakin saya menjalani perjalanan ini, semakin saya memahami bahwa prestasi bukanlah garis akhir.

Sebuah kemenangan boleh membuat kita bahagia.

Sebuah penghargaan boleh membuat kita bangga.

Sebuah inovasi boleh membuat kita percaya diri.

Namun, setelah semuanya selesai, selalu ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

“Apa yang masih bisa saya pelajari?”

Sebab apa yang berhasil kemarin belum tentu menjadi jawaban untuk tantangan hari ini.

Apa yang efektif pada satu kelompok murid belum tentu cocok untuk kelompok yang lain.

Dan pengalaman bertahun-tahun tidak berarti bahwa kita sudah selesai belajar.

Justru pengalaman seharusnya membuat kita semakin mampu melihat apa yang masih perlu diperbaiki.

Refleksi bukan tanda bahwa kita gagal

Kadang kita mengira refleksi hanya diperlukan ketika sesuatu tidak berjalan baik.

Ketika pembelajaran gagal.

Ketika murid tidak mencapai target.

Ketika sebuah program tidak sesuai harapan.

Padahal, menurut saya, refleksi juga penting ketika kita berhasil.

Mengapa berhasil?

Apa yang membuatnya berhasil?

Apakah keberhasilan itu dapat diterapkan kembali?

Apa yang masih bisa dikembangkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keberhasilan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian.

Ia berubah menjadi pengetahuan.

Berubah menjadi pengalaman.

Dan kemudian menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Di sinilah saya semakin memahami gagasan tentang reflective practitioner yang diperkenalkan Donald A. Schön.

Seorang profesional tidak hanya bekerja berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi juga terus belajar dari praktik yang dijalankannya.

Bagi guru, pengalaman mengajar adalah sumber belajar yang sangat berharga—jika kita bersedia merefleksikannya.

Reflection Series: tentang perjalanan, bukan kesempurnaan

Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu napas dalam perjalanan Reflection Series.

Saya tidak ingin menjadikan refleksi sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa saya sudah menjadi guru yang sempurna.

Sebaliknya, Reflection Series menjadi ruang untuk mengingatkan diri sendiri bahwa perjalanan seorang guru tidak pernah selesai.

Salah satu gagasan yang terus saya pegang adalah:

Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Kalimat ini bukan berarti bahwa diri kita yang kemarin adalah buruk.

Tidak.

Diri kita yang kemarin adalah bagian dari perjalanan yang membawa kita sampai hari ini.

Kesalahan kemarin memberi pelajaran.

Keberhasilan kemarin memberi pengalaman.

Kegagalan kemarin memberi perspektif.

Dan pencapaian kemarin memberi kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.

Maka saya tidak ingin menghapus masa lalu.

Saya ingin belajar darinya.

Tidak membandingkan, tetapi bertumbuh

Saya menyadari bahwa perjalanan setiap guru berbeda.

Ada yang baru memulai.

Ada yang sudah puluhan tahun mengajar.

Ada yang sedang menemukan passion-nya.

Ada yang sedang membangun inovasi.

Ada yang mendapatkan penghargaan.

Ada pula yang bekerja dalam diam tanpa pernah mendapatkan panggung.

Semuanya memiliki perjalanan masing-masing.

Karena itu, ukuran pertumbuhan seorang guru tidak harus selalu dibandingkan dengan orang lain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah saya hari ini lebih sadar daripada kemarin?”

Mungkin kemarin saya belum berani mencoba pendekatan baru.

Hari ini saya mencoba.

Mungkin kemarin saya terlalu cepat memberikan jawaban kepada murid.

Hari ini saya belajar memberi mereka waktu untuk berpikir.

Mungkin kemarin saya lebih banyak berbicara.

Hari ini saya mencoba lebih banyak mendengarkan.

Mungkin kemarin saya melihat kesalahan murid sebagai masalah.

Hari ini saya mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar.

Perubahannya mungkin kecil.

Tetapi bukankah pertumbuhan memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil?

Dari refleksi menuju tindakan

Refleksi juga tidak boleh berhenti sebagai renungan.

Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bahwa pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.

Saya menyukai bagian terakhirnya:

rencana tindakan.

Sebab apa gunanya kita menyadari sesuatu jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?

Maka refleksi yang baik selalu membawa kita pada sebuah langkah.

Tidak harus langkah besar.

Kadang hanya satu perubahan kecil.

Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.

Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.

Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.

Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.

Besok saya akan belajar lagi.

Kecil, tetapi nyata.

Prestasi boleh menjadi pencapaian, bukan tempat berhenti

Saya bersyukur atas setiap pencapaian yang pernah saya dapatkan sebagai guru.

Tetapi saya tidak ingin penghargaan menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Saya tidak ingin inovasi yang pernah berhasil membuat saya merasa sudah mengetahui semua jawaban.

Saya tidak ingin kemenangan hari ini membuat saya menggunakan cara yang sama selamanya.

Justru saya ingin setiap pencapaian menjadi pertanyaan baru:

“Setelah ini, apa lagi yang dapat saya pelajari?”

Bagi saya, itulah salah satu makna refleksi.

Refleksi bukan rem untuk menghentikan inovasi. Refleksi adalah kemudi agar inovasi tetap memiliki arah.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru

Jika pada Hari Kemerdekaan saya berbicara tentang keberanian menentukan arah, hari ini saya semakin memahami bahwa guru juga membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi arah yang telah dipilihnya.

Kita merdeka untuk mencoba.

Merdeka untuk menerima masukan.

Merdeka untuk mengakui bahwa sesuatu yang berhasil belum tentu sempurna.

Merdeka untuk mengubah cara yang ternyata tidak lagi sesuai.

Dan merdeka untuk memulai kembali.

Karena menjadi guru bukan perjalanan menuju titik ketika kita akhirnya berkata:

“Saya sudah selesai belajar.”

Semakin kita mengenal profesi ini, semakin kita menyadari betapa banyak yang masih bisa dipelajari.

Murid berubah.

Dunia berubah.

Pengetahuan berkembang.

Tantangan pendidikan berubah.

Dan kita pun berubah.

Maka hari ini saya tidak ingin bertanya:

“Apakah saya sudah menjadi guru yang hebat?”

Saya ingin bertanya:

“Apakah hari ini saya sudah menjadi guru yang sedikit lebih baik daripada kemarin?”

Jika jawabannya belum, saya masih memiliki kesempatan untuk belajar.

Jika jawabannya iya, saya tidak boleh berhenti.

Sebab menjadi lebih baik bukanlah tujuan akhir.

Ia adalah perjalanan.

Dan mungkin, di situlah kemerdekaan profesional seorang guru menemukan maknanya:

bukan bebas dari kesalahan, tetapi bebas untuk terus belajar dari kesalahan.

“Kita tidak harus menjadi guru yang sempurna hari ini. Kita hanya perlu berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Setelah berbagai pencapaian yang saya raih sebagai guru, apa satu hal yang masih ingin saya pelajari atau kembangkan?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Pilih satu praktik mengajar yang sudah berhasil Anda lakukan. Jangan hanya bertanya “Apakah ini berhasil?” Tanyakan juga: “Mengapa ini berhasil, dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik?”

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh :
Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 

.


Selasa, 18 Agustus 2026

Sebelum Mengubah Murid, Sudahkah Guru Mengenal Dirinya? (#02)

 

18 Agustus 2026

Kemarin, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak diri sendiri berhenti sejenak dan bertanya:

“Sudahkah saya benar-benar merdeka sebagai seorang guru?”

Pertanyaan itu membawa saya pada pemahaman bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang keberanian menentukan arah dan mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita jalani.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:

“Jika kemerdekaan adalah tentang keberanian menentukan arah, sudahkah saya sebagai guru berani melihat dan mengenali diri sendiri?”

Sebab untuk menentukan arah, kita perlu tahu siapa diri kita, apa yang kita yakini, apa yang menjadi kekuatan kita, dan apa yang masih perlu kita perbaiki.

Hari ini saya ingin melanjutkan pertanyaan itu dengan pertanyaan yang mungkin lebih sulit:

“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”

Guru yang sibuk mengenal murid

Sebagai guru, kita terbiasa berbicara tentang pentingnya mengenal murid.

Kita belajar memahami karakter mereka.

Kita mengamati kebutuhan mereka.

Kita mencoba mengenali kekuatan dan kesulitan mereka.

Kita mencari strategi agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka.

Semua itu penting.

Tetapi di tengah kesibukan mengenal murid, ada satu hal yang terkadang terlupakan:

mengenal diri sendiri sebagai guru.

Siapa saya ketika berada di depan kelas?

Apa yang membuat saya bersemangat mengajar?

Apa yang membuat saya mudah kecewa?

Bagaimana saya merespons ketika murid tidak sesuai dengan harapan?

Apakah saya cukup sabar mendengarkan?

Apakah saya benar-benar memberikan ruang kepada murid untuk tumbuh, atau tanpa sadar justru menuntut mereka menjadi seperti yang saya inginkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman.

Namun, mungkin justru karena itulah pertanyaan tersebut perlu diajukan.

Guru juga manusia yang sedang belajar

Dulu saya mungkin berpikir bahwa guru harus selalu memiliki jawaban.

Harus tahu bagaimana menghadapi murid.

Harus mampu mengelola kelas.

Harus bisa membuat pembelajaran menarik.

Harus menjadi teladan.

Tetapi semakin lama menjalani profesi ini, saya semakin memahami bahwa guru juga manusia yang sedang belajar.

Ada hari ketika pembelajaran berjalan sangat baik.

Ada pula hari ketika rencana yang telah disiapkan ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Ada saat ketika kita merasa berhasil.

Ada saat ketika kita pulang membawa pertanyaan:

“Apa yang sebenarnya terjadi di kelas saya hari ini?”

Kini saya tidak lagi melihat pertanyaan itu sebagai tanda kegagalan.

Saya justru melihatnya sebagai awal dari refleksi.

Donald A. Schön, melalui gagasannya tentang reflective practitioner, menjelaskan pentingnya profesional belajar melalui refleksi atas praktik yang dijalankannya.

Gagasan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan guru.

Kelas bukan hanya tempat murid belajar. Kelas juga tempat guru belajar menjadi guru.

Setiap interaksi dengan murid dapat menjadi cermin.

Setiap keberhasilan dapat menjadi pelajaran.

Setiap kesalahan dapat menjadi bahan untuk bertumbuh.

Melihat diri dari lebih dari satu cermin

Namun, mengenal diri ternyata tidak cukup hanya dengan bertanya kepada diri sendiri.

Kadang kita merasa sudah mengajar dengan baik karena pembelajaran berjalan sesuai rencana.

Tetapi bagaimana murid merasakannya?

Bagaimana rekan sejawat melihat praktik kita?

Apa yang dikatakan penelitian tentang pendekatan yang kita gunakan?

Stephen D. Brookfield mengajak guru melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, pandangan kolega, serta teori dan penelitian.

Gagasan tersebut mengingatkan saya bahwa refleksi bukan sekadar mengatakan:

“Menurut saya, saya sudah baik.”

Refleksi justru mengajak kita berani membuka cermin yang lebih luas.

Mungkin menurut kita pembelajaran sudah menarik.

Tetapi murid belum tentu merasakannya demikian.

Mungkin kita merasa sudah memberikan kesempatan kepada semua murid.

Tetapi masih ada murid yang belum merasa didengar.

Mungkin kita merasa sudah menjadi guru yang sabar.

Tetapi sebuah respons kecil di kelas bisa saja membuat seorang murid merasa tidak dihargai.

Di titik inilah refleksi membutuhkan keberanian.

Keberanian untuk melihat diri kita sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin kita lihat.

Reflection Series: ruang untuk berbicara dengan diri sendiri

Kesadaran seperti inilah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan Reflection Series yang saya bangun.

Saya tidak memulainya dengan keinginan untuk menjadi guru yang sempurna.

Saya hanya ingin menyediakan ruang kecil untuk berhenti.

Ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mengingat kembali pengalaman.

Ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.

Salah satu gagasan yang terus saya pegang dalam perjalanan tersebut adalah:

Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Bukan menjadi guru yang paling hebat.

Bukan membandingkan diri dengan guru lain.

Tetapi melihat apakah hari ini ada pertumbuhan kecil dalam diri kita.

Mungkin hari ini saya lebih sabar.

Mungkin hari ini saya lebih banyak mendengarkan.

Mungkin hari ini saya berani mencoba sesuatu yang baru.

Atau mungkin hari ini saya menyadari sebuah kesalahan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

Semuanya adalah bagian dari perjalanan.

Refleksi harus membawa kita ke langkah berikutnya

Refleksi tidak seharusnya berhenti pada kesadaran.

Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bagaimana pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.

Saya menyukai bagian terakhirnya:

rencana tindakan.

Karena apa gunanya kita menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?

Maka bagi saya, refleksi yang baik selalu berujung pada sebuah langkah.

Tidak harus langkah besar.

Kadang hanya satu perubahan kecil.

Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.

Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.

Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.

Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.

Besok saya akan belajar lagi.

Kecil, tetapi nyata.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru

Kemerdekaan profesional ternyata bukan berarti kita bebas dari kesalahan.

Bukan pula berarti kita sudah mengetahui semua jawaban.

Kemerdekaan mungkin justru dimulai ketika kita tidak lagi takut mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Dan kemudian berani melanjutkan:

“Saya akan belajar.”

Kita tidak lagi terikat pada kalimat:

“Saya memang dari dulu mengajar seperti ini.”

Kita mulai menggantinya dengan:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik?”

Kita tidak lagi melihat pengalaman sebagai alasan untuk berhenti berubah.

Kita menjadikannya bahan untuk terus bertumbuh.

Karena sebelum meminta murid menjadi pembelajar sepanjang hayat, guru perlu terlebih dahulu menunjukkan bahwa dirinya juga seorang pembelajar sepanjang hayat.

Hari ini saya kembali diingatkan:

Sebelum mengubah murid, saya perlu bersedia mengubah diri.

Sebelum meminta murid mengenal dirinya, saya perlu mengenal diri sendiri.

Sebelum berharap murid bertumbuh, saya perlu terus bertumbuh.

Dan mungkin, di sanalah salah satu bentuk kemerdekaan seorang guru bermula.

Bukan ketika kita merasa telah selesai.

Tetapi ketika kita sadar bahwa perjalanan belajar kita masih panjang.

“Menjadi lebih baik tidak selalu berarti menjadi lebih hebat dari orang lain. Kadang, kemerdekaan itu sesederhana berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Jika saya melihat diri saya sebagai guru setahun yang lalu, perubahan apa yang paling saya syukuri hari ini?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Tuliskan satu kekuatan yang Anda miliki sebagai guru dan satu hal yang masih ingin Anda perbaiki. Tidak perlu sempurna. Yang penting, jujur.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.

Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh :
Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 


Ketika Murid Tidak Terlibat, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)

  Ketika Murid Tidak Terlibat,  Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06) 22 Agustus 2026 Kemarin saya mengajak diri sendiri bergeser sediki...