Jumat, 21 Agustus 2026

Belajar Melihat Pembelajaran dari Mata Murid (#05)

 

Belajar Melihat Pembelajaran 
dari 
Mata Murid (#05)

21 Agustus 2026

Empat hari terakhir saya banyak berbicara kepada diri sendiri.

Tentang kemerdekaan. 

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Tentang mengenal diri.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Tentang terus bertumbuh.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Dan tentang keberanian untuk jujur melihat praktik kita sebagai guru. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html

Hari ini saya ingin menggeser pandangan.

Bukan lagi hanya bertanya:

“Bagaimana saya mengajar?”

Tetapi mencoba bertanya:

“Bagaimana murid mengalami pembelajaran saya?”

Pertanyaan ini ternyata tidak sederhana.

Karena selama ini, tanpa sadar, kita sering melihat kelas dari tempat kita berdiri.

Kita melihat rencana pembelajaran yang sudah kita siapkan.

Kita melihat materi yang sudah kita sampaikan.

Kita melihat aktivitas yang sudah kita rancang.

Kita melihat tugas yang sudah diberikan.

Kita melihat asesmen yang sudah dilakukan.

Lalu kita merasa:

“Saya sudah mengajar.”

Tetapi apakah itu berarti murid sudah belajar?

Mengajar tidak selalu berarti membuat murid belajar

Ada perbedaan antara apa yang guru lakukan dan apa yang dialami murid.

Guru mungkin merasa sudah menjelaskan dengan baik.

Tetapi murid mungkin masih bingung.

Guru mungkin merasa aktivitasnya menarik.

Tetapi ada murid yang merasa tidak nyaman.

Guru mungkin merasa sudah memberi kesempatan bertanya.

Tetapi mungkin hanya murid tertentu yang berani menggunakannya.

Guru mungkin merasa kelasnya aktif.

Tetapi bisa saja aktivitas itu hanya didominasi oleh beberapa murid.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat guru merasa bersalah.

Justru sebaliknya.

Pertanyaan ini mengajak kita melihat pembelajaran dari perspektif yang lebih utuh.

Dari mata murid.

Mencoba melihat dari sisi yang berbeda

Saya teringat kembali pada gagasan Stephen D. Brookfield tentang critical reflection.

Salah satu lensa yang ia tawarkan kepada guru adalah student eyes—melihat praktik pembelajaran dari perspektif peserta didik.

Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan bahwa pengalaman guru dan pengalaman murid tidak selalu sama.

Apa yang bagi kita sederhana, mungkin terasa sulit bagi murid.

Apa yang menurut kita jelas, mungkin masih membingungkan.

Apa yang kita anggap sebagai motivasi, mungkin justru dirasakan sebagai tekanan.

Dan apa yang kita anggap sebagai sebuah kesempatan, mungkin belum tentu dirasakan demikian oleh semua murid.

Maka pertanyaan reflektifnya bukan hanya:

“Apa yang sudah saya lakukan?”

Tetapi:

“Apa yang dirasakan dan dialami murid ketika saya melakukannya?”

Pernahkah kita benar-benar bertanya kepada murid?

Kadang kita sibuk mencari strategi pembelajaran dari berbagai sumber.

Membaca buku.

Mengikuti pelatihan.

Mencoba teknologi baru.

Mempelajari model pembelajaran.

Mendesain aktivitas yang inovatif.

Semua itu penting.

Tetapi ada satu sumber informasi yang sering kali paling dekat dengan kita:

murid itu sendiri.

Mereka dapat memberi tahu kita sesuatu yang tidak selalu terlihat dari meja guru.

Mereka dapat mengatakan:

“Saya lebih mudah memahami ketika Ibu memberikan contoh.”

Atau:

“Saya sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut salah.”

Atau:

“Saya senang bekerja dalam kelompok, tetapi saya sering tidak mendapat kesempatan berbicara.”

Atau bahkan:

“Saya tidak mengerti, tetapi saya malu mengatakan bahwa saya tidak mengerti.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi cermin yang sangat berharga.

Mendengarkan adalah bagian dari refleksi

Saya mulai memahami bahwa refleksi seorang guru tidak selalu harus dilakukan sendirian.

Kadang refleksi terbaik justru datang ketika kita mau mendengarkan orang lain.

Termasuk murid.

Karena itu, mungkin setelah pembelajaran kita tidak hanya bertanya:

“Apakah materi hari ini sudah selesai?”

Tetapi:

“Bagian mana yang paling membantu kamu belajar?”

“Bagian mana yang paling sulit?”

“Apa yang membuat kamu nyaman untuk bertanya?”

“Apa yang membuat kamu memilih diam?”

“Apa yang sebaiknya saya lakukan berbeda pada pembelajaran berikutnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya dapat membuka jendela yang selama ini mungkin belum kita lihat.

Guru tidak kehilangan wibawa ketika mau mendengarkan

Ada anggapan bahwa guru harus selalu menjadi sumber jawaban.

Tetapi saya semakin percaya bahwa guru juga perlu menjadi pendengar yang baik.

Mendengarkan murid bukan berarti menyerahkan kendali pembelajaran kepada mereka.

Bukan berarti semua keinginan murid harus diikuti.

Mendengarkan berarti memberikan ruang agar suara mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Karena murid bukan hanya penerima pembelajaran.

Mereka adalah manusia yang mengalami pembelajaran itu.

Dan pengalaman mereka penting.

Dari “mengajar” menuju “memahami”

Mungkin inilah perubahan kecil dalam cara pandang yang ingin saya bangun melalui Reflection Series.

Dari:

“Bagaimana saya mengajar?”

menjadi:

“Bagaimana murid belajar?”

Dari:

“Apa yang sudah saya sampaikan?”

menjadi:

“Apa yang benar-benar dipahami murid?”

Dari:

“Mengapa murid tidak aktif?”

menjadi:

“Apa yang membuat murid belum merasa aman atau memiliki ruang untuk berpartisipasi?”

Pertanyaan yang berbeda dapat membawa kita pada jawaban yang berbeda.

Dan jawaban yang berbeda dapat membawa kita pada tindakan yang berbeda.

Kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada murid

Di awal perjalanan ini, saya berbicara tentang kemerdekaan guru.

Hari ini saya mulai melihat hubungan yang lebih luas.

Guru yang merdeka tidak hanya memerdekakan dirinya untuk terus belajar. Ia juga membantu menciptakan ruang agar murid dapat tumbuh.

Murid perlu ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk salah.

Ruang untuk menyampaikan pendapat.

Ruang untuk menemukan kekuatannya.

Ruang untuk menjadi dirinya sendiri dalam proses belajar.

Dan mungkin, salah satu cara guru memberikan ruang itu adalah dengan mau mendengarkan.

Sebab kita tidak mungkin benar-benar memahami seseorang jika kita tidak bersedia mendengar suaranya.

Hari ini saya belajar untuk bergeser

Saya tidak harus selalu berdiri di tengah pembelajaran.

Kadang saya perlu bergeser sedikit.

Melihat dari sisi murid.

Mendengar dari tempat mereka berada.

Mencoba memahami apa yang mereka rasakan.

Bukan untuk kehilangan peran sebagai guru.

Tetapi agar saya dapat menjalankan peran itu dengan lebih baik.

Karena akhirnya saya menyadari:

Pembelajaran bukan hanya tentang apa yang guru ajarkan. Pembelajaran adalah tentang apa yang dialami, dipahami, dan dimaknai oleh murid.

Dan untuk mengetahuinya, saya perlu bertanya.

Saya perlu mendengar.

Saya perlu membuka diri.

Mungkin itulah langkah berikutnya dalam perjalanan refleksi saya.

Setelah berani melihat diri sendiri,

saya perlu berani melihat dunia dari mata murid.

“Guru yang reflektif tidak hanya bertanya, ‘Apa yang sudah saya ajarkan?’ Ia juga berani bertanya, ‘Apa yang sebenarnya dialami murid saya?’”

Pertanyaan refleksi hari ini

Jika murid saya diberi kesempatan menilai satu hal dari cara saya mengajar, menurut saya apa yang paling mungkin mereka katakan?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Pada akhir pembelajaran, tanyakan kepada murid hanya satu pertanyaan: “Apa satu hal yang membantu kamu belajar hari ini, dan apa satu hal yang sebaiknya saya perbaiki?” Dengarkan jawabannya tanpa langsung membela diri.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.



Kamis, 20 Agustus 2026

Refleksi Membutuhkan Kejujuran: Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

 


Refleksi Membutuhkan Kejujuran:  
Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

20 Agustus 2026

Tiga hari terakhir saya mengajak diri sendiri melakukan perjalanan kecil.

Pada 17 Agustus, saya bertanya tentang kemerdekaan seorang guruhttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Pada 18 Agustus, saya bertanya apakah sebelum ingin mengubah murid, saya sudah berani mengenal diri sendirihttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Kemarin, 19 Agustus, saya belajar bahwa prestasi bukanlah garis akhir. Seorang guru tetap perlu bertumbuh, bahkan ketika ia telah memiliki banyak pengalaman dan pencapaian. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Hari ini saya sampai pada satu kesadaran:

Untuk dapat berefleksi dengan sungguh-sungguh, seorang guru harus berani jujur kepada dirinya sendiri.

Bukan kejujuran yang membuat kita merendahkan diri.

Bukan pula kejujuran untuk mencari-cari kesalahan.

Tetapi keberanian untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak semua yang kita lakukan selalu berhasil

Sebagai guru, tentu kita ingin pembelajaran kita berhasil.

Kita merancang kegiatan.

Menyiapkan media.

Memikirkan strategi.

Menyusun asesmen.

Kemudian masuk ke kelas dengan harapan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tetapi kenyataan di kelas terkadang berbeda.

Ada murid yang antusias.

Ada yang diam.

Ada yang cepat memahami.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Ada kegiatan yang ternyata berhasil di luar dugaan.

Ada pula kegiatan yang menurut kita sudah bagus, tetapi ternyata belum memberikan dampak seperti yang kita harapkan.

Pada titik seperti ini, kita memiliki pilihan.

Kita bisa mencari alasan.

Atau kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pertanyaan kedua membutuhkan keberanian.

Sebab terkadang jawabannya bukan tentang murid.

Bukan tentang fasilitas.

Bukan tentang waktu.

Bukan tentang keadaan.

Kadang jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Refleksi bukan mencari siapa yang salah

Saya semakin memahami bahwa refleksi bukanlah proses mencari siapa yang harus disalahkan.

Refleksi adalah proses mencari apa yang dapat dipelajari.

Ketika sebuah pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan, saya tidak ingin berhenti pada kalimat:

“Murid saya kurang aktif.”

Saya ingin melanjutkannya:

Mengapa mereka kurang aktif?

Apakah pertanyaannya terlalu sulit?

Apakah saya terlalu banyak berbicara?

Apakah saya belum memberikan ruang yang cukup?

Apakah aktivitasnya sesuai dengan kebutuhan mereka?

Atau mungkin saya sendiri belum benar-benar memahami apa yang mereka perlukan?

Pertanyaan seperti ini membuat kita bergerak dari menilai menuju memahami.

Dan dari memahami, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki.

Korthagen: melihat kembali sebelum melangkah lagi

Dalam pengembangan profesional guru, Fred Korthagen mengembangkan ALACT model, sebuah siklus refleksi yang terdiri dari lima tahap: Action, Looking back on the action, Awareness of essential aspects, Creating alternative methods of action, dan Trial.

Saya melihat model ini sebagai pengingat sederhana bahwa refleksi bukan sekadar berhenti pada pengalaman.

Kita mengalami sesuatu.

Kemudian kita melihat kembali apa yang terjadi.

Kita mencoba memahami hal-hal penting di balik pengalaman tersebut.

Kita memikirkan alternatif.

Lalu kita mencoba kembali dengan tindakan yang baru.

Dengan demikian, pengalaman tidak berhenti menjadi pengalaman.

Ia berubah menjadi pembelajaran.

Dan pembelajaran kemudian melahirkan tindakan baru.

Bagian tersulit adalah melihat diri sendiri

Melihat kembali sebuah peristiwa mungkin mudah.

Yang sulit adalah melihat peran kita sendiri di dalamnya.

Apalagi ketika kita sudah memiliki pengalaman.

Apalagi ketika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan cara tertentu.

Apalagi ketika sebelumnya cara tersebut pernah berhasil.

Di sinilah refleksi menjadi penting.

Kita perlu bertanya:

Apakah saya masih melakukan ini karena memang efektif, atau karena saya sudah terbiasa?

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi bisa sangat mengganggu kenyamanan.

Sebab kadang kita menemukan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap benar ternyata perlu ditinjau kembali.

Dan menurut saya, tidak apa-apa.

Guru tidak kehilangan wibawa hanya karena mengakui bahwa dirinya masih belajar.

Justru keberanian untuk mengatakan “saya perlu memperbaiki ini” adalah bagian dari profesionalisme.

Bahkan keberhasilan pun perlu direfleksikan

Refleksi tidak hanya dilakukan ketika kita gagal.

Keberhasilan pun perlu ditanyakan kembali.

Ketika sebuah inovasi pembelajaran berhasil, kita bisa bertanya:

Mengapa ini berhasil?

Apa yang sebenarnya membuat murid terlibat?

Bagian mana yang paling memberikan dampak?

Apa yang dapat dipertahankan?

Apa yang masih perlu diperbaiki?

Dengan cara itu, keberhasilan tidak membuat kita berhenti.

Keberhasilan justru menjadi bahan untuk belajar lebih jauh.

Bagi saya, inilah mengapa Reflection Series tidak lahir hanya dari pengalaman-pengalaman yang kurang berhasil.

Refleksi juga lahir dari keinginan untuk memahami mengapa sesuatu berhasil dan bagaimana keberhasilan tersebut dapat terus dikembangkan.

Kejujuran adalah bentuk kemerdekaan

Jika pada artikel pertama saya berbicara tentang kemerdekaan, hari ini saya semakin memahami bahwa ada bentuk kemerdekaan lain yang sangat penting bagi seorang guru:

kemerdekaan untuk jujur kepada diri sendiri.

Merdeka untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Merdeka untuk mengatakan:

“Cara saya belum berhasil.”

Merdeka untuk menerima:

“Mungkin saya perlu mendengarkan murid lebih banyak.”

Dan kemudian memiliki keberanian untuk berkata:

“Saya akan mencoba lagi dengan cara yang lebih baik.”

Itulah mengapa saya tidak melihat refleksi sebagai kegiatan untuk melemahkan rasa percaya diri guru.

Sebaliknya.

Refleksi menjaga rasa percaya diri agar tetap disertai kerendahan hati.

Kita boleh percaya pada kemampuan kita.

Kita boleh bangga atas pencapaian kita.

Kita boleh bersyukur atas berbagai kesempatan yang telah diberikan.

Tetapi kita tetap perlu menyediakan ruang untuk bertanya:

“Apa yang belum saya lihat?”

Mungkin pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan terpenting dalam perjalanan seorang guru.

Karena guru yang reflektif tidak takut melihat kenyataan

Saya mulai menyadari bahwa menjadi guru reflektif bukan berarti setiap hari harus menemukan kesalahan dalam diri sendiri.

Bukan.

Refleksi berarti mampu melihat pengalaman secara utuh.

Ada yang berhasil.

Ada yang belum.

Ada kekuatan.

Ada keterbatasan.

Ada pencapaian.

Ada ruang untuk berkembang.

Semuanya diterima sebagai bagian dari perjalanan.

Dan setelah melihatnya dengan jujur, kita memilih:

apa yang akan kita lakukan berikutnya?

Mungkin itulah inti refleksi.

Bukan berhenti pada:

“Apa yang terjadi?”

Tetapi bergerak menuju:

“Apa yang saya pelajari dari apa yang terjadi?”

Dan kemudian:

“Apa yang akan saya lakukan setelah mempelajarinya?”

Hari ini saya belajar satu hal

Guru tidak harus selalu terlihat sempurna.

Guru tidak harus selalu memiliki jawaban.

Guru bahkan tidak harus selalu berhasil.

Tetapi guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dari apa yang dialaminya.

Karena ketika kita berani jujur kepada diri sendiri, kita tidak sedang meruntuhkan diri.

Kita sedang membuka pintu untuk bertumbuh.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan profesional yang paling sederhana:

berani melihat diri sendiri tanpa topeng, menerima apa adanya, lalu memilih untuk memperbaikinya.

Dan mungkin, setelah kita berani melihat diri sendiri dengan jujur, kita akan lebih mampu melihat murid dengan lebih utuh.

Perjalanan itu masih panjang.

Kemarin kita berhenti.

Kemudian kita mengenal diri.

Lalu kita memilih bertumbuh.

Hari ini kita belajar untuk jujur.

Besok, mungkin saatnya kita belajar mendengarkan.

“Refleksi bukan keberanian untuk menemukan bahwa kita selalu benar. Refleksi adalah keberanian untuk melihat bahwa kita masih bisa belajar.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika pembelajaran saya tidak berjalan sesuai harapan, apakah saya lebih sering mencari alasan atau mencari pelajaran?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Ingat satu kejadian pembelajaran yang belum berjalan sesuai harapan. Jangan mencari siapa yang salah. Tuliskan tiga hal: apa yang terjadi, apa yang saya pelajari, dan apa yang akan saya coba berbeda berikutnya.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Korthagen, F. A. J., & Kessels, J. W. M. (1999). Linking theory and practice: Changing the pedagogy of teacher education. Educational Researcher, 28(4), 4–17.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 



Rabu, 19 Agustus 2026

Menjadi Guru yang Lebih Baik daripada Kemarin (#03)


19 Agustus 2026

Kemarin saya bertanya:

“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”

Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan sederhana:

“Setelah mengenal diri, apa yang akan saya lakukan dengan kesadaran itu?”

Bagi saya, jawabannya bukan menjadi sempurna.

Jawabannya adalah:

menjadi sedikit lebih baik daripada diri saya yang kemarin.

Kita tidak harus berhenti bertumbuh

Dalam perjalanan menjadi guru, saya bersyukur pernah mendapatkan berbagai kesempatan untuk berkarya, berinovasi, mengikuti kompetisi, dan meraih beberapa pencapaian.

Setiap keberhasilan tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Tetapi semakin saya menjalani perjalanan ini, semakin saya memahami bahwa prestasi bukanlah garis akhir.

Sebuah kemenangan boleh membuat kita bahagia.

Sebuah penghargaan boleh membuat kita bangga.

Sebuah inovasi boleh membuat kita percaya diri.

Namun, setelah semuanya selesai, selalu ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

“Apa yang masih bisa saya pelajari?”

Sebab apa yang berhasil kemarin belum tentu menjadi jawaban untuk tantangan hari ini.

Apa yang efektif pada satu kelompok murid belum tentu cocok untuk kelompok yang lain.

Dan pengalaman bertahun-tahun tidak berarti bahwa kita sudah selesai belajar.

Justru pengalaman seharusnya membuat kita semakin mampu melihat apa yang masih perlu diperbaiki.

Refleksi bukan tanda bahwa kita gagal

Kadang kita mengira refleksi hanya diperlukan ketika sesuatu tidak berjalan baik.

Ketika pembelajaran gagal.

Ketika murid tidak mencapai target.

Ketika sebuah program tidak sesuai harapan.

Padahal, menurut saya, refleksi juga penting ketika kita berhasil.

Mengapa berhasil?

Apa yang membuatnya berhasil?

Apakah keberhasilan itu dapat diterapkan kembali?

Apa yang masih bisa dikembangkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keberhasilan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian.

Ia berubah menjadi pengetahuan.

Berubah menjadi pengalaman.

Dan kemudian menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Di sinilah saya semakin memahami gagasan tentang reflective practitioner yang diperkenalkan Donald A. Schön.

Seorang profesional tidak hanya bekerja berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi juga terus belajar dari praktik yang dijalankannya.

Bagi guru, pengalaman mengajar adalah sumber belajar yang sangat berharga—jika kita bersedia merefleksikannya.

Reflection Series: tentang perjalanan, bukan kesempurnaan

Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu napas dalam perjalanan Reflection Series.

Saya tidak ingin menjadikan refleksi sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa saya sudah menjadi guru yang sempurna.

Sebaliknya, Reflection Series menjadi ruang untuk mengingatkan diri sendiri bahwa perjalanan seorang guru tidak pernah selesai.

Salah satu gagasan yang terus saya pegang adalah:

Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Kalimat ini bukan berarti bahwa diri kita yang kemarin adalah buruk.

Tidak.

Diri kita yang kemarin adalah bagian dari perjalanan yang membawa kita sampai hari ini.

Kesalahan kemarin memberi pelajaran.

Keberhasilan kemarin memberi pengalaman.

Kegagalan kemarin memberi perspektif.

Dan pencapaian kemarin memberi kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.

Maka saya tidak ingin menghapus masa lalu.

Saya ingin belajar darinya.

Tidak membandingkan, tetapi bertumbuh

Saya menyadari bahwa perjalanan setiap guru berbeda.

Ada yang baru memulai.

Ada yang sudah puluhan tahun mengajar.

Ada yang sedang menemukan passion-nya.

Ada yang sedang membangun inovasi.

Ada yang mendapatkan penghargaan.

Ada pula yang bekerja dalam diam tanpa pernah mendapatkan panggung.

Semuanya memiliki perjalanan masing-masing.

Karena itu, ukuran pertumbuhan seorang guru tidak harus selalu dibandingkan dengan orang lain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah saya hari ini lebih sadar daripada kemarin?”

Mungkin kemarin saya belum berani mencoba pendekatan baru.

Hari ini saya mencoba.

Mungkin kemarin saya terlalu cepat memberikan jawaban kepada murid.

Hari ini saya belajar memberi mereka waktu untuk berpikir.

Mungkin kemarin saya lebih banyak berbicara.

Hari ini saya mencoba lebih banyak mendengarkan.

Mungkin kemarin saya melihat kesalahan murid sebagai masalah.

Hari ini saya mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar.

Perubahannya mungkin kecil.

Tetapi bukankah pertumbuhan memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil?

Dari refleksi menuju tindakan

Refleksi juga tidak boleh berhenti sebagai renungan.

Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bahwa pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.

Saya menyukai bagian terakhirnya:

rencana tindakan.

Sebab apa gunanya kita menyadari sesuatu jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?

Maka refleksi yang baik selalu membawa kita pada sebuah langkah.

Tidak harus langkah besar.

Kadang hanya satu perubahan kecil.

Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.

Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.

Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.

Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.

Besok saya akan belajar lagi.

Kecil, tetapi nyata.

Prestasi boleh menjadi pencapaian, bukan tempat berhenti

Saya bersyukur atas setiap pencapaian yang pernah saya dapatkan sebagai guru.

Tetapi saya tidak ingin penghargaan menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Saya tidak ingin inovasi yang pernah berhasil membuat saya merasa sudah mengetahui semua jawaban.

Saya tidak ingin kemenangan hari ini membuat saya menggunakan cara yang sama selamanya.

Justru saya ingin setiap pencapaian menjadi pertanyaan baru:

“Setelah ini, apa lagi yang dapat saya pelajari?”

Bagi saya, itulah salah satu makna refleksi.

Refleksi bukan rem untuk menghentikan inovasi. Refleksi adalah kemudi agar inovasi tetap memiliki arah.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru

Jika pada Hari Kemerdekaan saya berbicara tentang keberanian menentukan arah, hari ini saya semakin memahami bahwa guru juga membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi arah yang telah dipilihnya.

Kita merdeka untuk mencoba.

Merdeka untuk menerima masukan.

Merdeka untuk mengakui bahwa sesuatu yang berhasil belum tentu sempurna.

Merdeka untuk mengubah cara yang ternyata tidak lagi sesuai.

Dan merdeka untuk memulai kembali.

Karena menjadi guru bukan perjalanan menuju titik ketika kita akhirnya berkata:

“Saya sudah selesai belajar.”

Semakin kita mengenal profesi ini, semakin kita menyadari betapa banyak yang masih bisa dipelajari.

Murid berubah.

Dunia berubah.

Pengetahuan berkembang.

Tantangan pendidikan berubah.

Dan kita pun berubah.

Maka hari ini saya tidak ingin bertanya:

“Apakah saya sudah menjadi guru yang hebat?”

Saya ingin bertanya:

“Apakah hari ini saya sudah menjadi guru yang sedikit lebih baik daripada kemarin?”

Jika jawabannya belum, saya masih memiliki kesempatan untuk belajar.

Jika jawabannya iya, saya tidak boleh berhenti.

Sebab menjadi lebih baik bukanlah tujuan akhir.

Ia adalah perjalanan.

Dan mungkin, di situlah kemerdekaan profesional seorang guru menemukan maknanya:

bukan bebas dari kesalahan, tetapi bebas untuk terus belajar dari kesalahan.

“Kita tidak harus menjadi guru yang sempurna hari ini. Kita hanya perlu berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Setelah berbagai pencapaian yang saya raih sebagai guru, apa satu hal yang masih ingin saya pelajari atau kembangkan?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Pilih satu praktik mengajar yang sudah berhasil Anda lakukan. Jangan hanya bertanya “Apakah ini berhasil?” Tanyakan juga: “Mengapa ini berhasil, dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik?”

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh :
Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 

.


Selasa, 18 Agustus 2026

Sebelum Mengubah Murid, Sudahkah Guru Mengenal Dirinya? (#02)

 

18 Agustus 2026

Kemarin, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak diri sendiri berhenti sejenak dan bertanya:

“Sudahkah saya benar-benar merdeka sebagai seorang guru?”

Pertanyaan itu membawa saya pada pemahaman bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang keberanian menentukan arah dan mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita jalani.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:

“Jika kemerdekaan adalah tentang keberanian menentukan arah, sudahkah saya sebagai guru berani melihat dan mengenali diri sendiri?”

Sebab untuk menentukan arah, kita perlu tahu siapa diri kita, apa yang kita yakini, apa yang menjadi kekuatan kita, dan apa yang masih perlu kita perbaiki.

Hari ini saya ingin melanjutkan pertanyaan itu dengan pertanyaan yang mungkin lebih sulit:

“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”

Guru yang sibuk mengenal murid

Sebagai guru, kita terbiasa berbicara tentang pentingnya mengenal murid.

Kita belajar memahami karakter mereka.

Kita mengamati kebutuhan mereka.

Kita mencoba mengenali kekuatan dan kesulitan mereka.

Kita mencari strategi agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka.

Semua itu penting.

Tetapi di tengah kesibukan mengenal murid, ada satu hal yang terkadang terlupakan:

mengenal diri sendiri sebagai guru.

Siapa saya ketika berada di depan kelas?

Apa yang membuat saya bersemangat mengajar?

Apa yang membuat saya mudah kecewa?

Bagaimana saya merespons ketika murid tidak sesuai dengan harapan?

Apakah saya cukup sabar mendengarkan?

Apakah saya benar-benar memberikan ruang kepada murid untuk tumbuh, atau tanpa sadar justru menuntut mereka menjadi seperti yang saya inginkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman.

Namun, mungkin justru karena itulah pertanyaan tersebut perlu diajukan.

Guru juga manusia yang sedang belajar

Dulu saya mungkin berpikir bahwa guru harus selalu memiliki jawaban.

Harus tahu bagaimana menghadapi murid.

Harus mampu mengelola kelas.

Harus bisa membuat pembelajaran menarik.

Harus menjadi teladan.

Tetapi semakin lama menjalani profesi ini, saya semakin memahami bahwa guru juga manusia yang sedang belajar.

Ada hari ketika pembelajaran berjalan sangat baik.

Ada pula hari ketika rencana yang telah disiapkan ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Ada saat ketika kita merasa berhasil.

Ada saat ketika kita pulang membawa pertanyaan:

“Apa yang sebenarnya terjadi di kelas saya hari ini?”

Kini saya tidak lagi melihat pertanyaan itu sebagai tanda kegagalan.

Saya justru melihatnya sebagai awal dari refleksi.

Donald A. Schön, melalui gagasannya tentang reflective practitioner, menjelaskan pentingnya profesional belajar melalui refleksi atas praktik yang dijalankannya.

Gagasan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan guru.

Kelas bukan hanya tempat murid belajar. Kelas juga tempat guru belajar menjadi guru.

Setiap interaksi dengan murid dapat menjadi cermin.

Setiap keberhasilan dapat menjadi pelajaran.

Setiap kesalahan dapat menjadi bahan untuk bertumbuh.

Melihat diri dari lebih dari satu cermin

Namun, mengenal diri ternyata tidak cukup hanya dengan bertanya kepada diri sendiri.

Kadang kita merasa sudah mengajar dengan baik karena pembelajaran berjalan sesuai rencana.

Tetapi bagaimana murid merasakannya?

Bagaimana rekan sejawat melihat praktik kita?

Apa yang dikatakan penelitian tentang pendekatan yang kita gunakan?

Stephen D. Brookfield mengajak guru melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, pandangan kolega, serta teori dan penelitian.

Gagasan tersebut mengingatkan saya bahwa refleksi bukan sekadar mengatakan:

“Menurut saya, saya sudah baik.”

Refleksi justru mengajak kita berani membuka cermin yang lebih luas.

Mungkin menurut kita pembelajaran sudah menarik.

Tetapi murid belum tentu merasakannya demikian.

Mungkin kita merasa sudah memberikan kesempatan kepada semua murid.

Tetapi masih ada murid yang belum merasa didengar.

Mungkin kita merasa sudah menjadi guru yang sabar.

Tetapi sebuah respons kecil di kelas bisa saja membuat seorang murid merasa tidak dihargai.

Di titik inilah refleksi membutuhkan keberanian.

Keberanian untuk melihat diri kita sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin kita lihat.

Reflection Series: ruang untuk berbicara dengan diri sendiri

Kesadaran seperti inilah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan Reflection Series yang saya bangun.

Saya tidak memulainya dengan keinginan untuk menjadi guru yang sempurna.

Saya hanya ingin menyediakan ruang kecil untuk berhenti.

Ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mengingat kembali pengalaman.

Ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.

Salah satu gagasan yang terus saya pegang dalam perjalanan tersebut adalah:

Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Bukan menjadi guru yang paling hebat.

Bukan membandingkan diri dengan guru lain.

Tetapi melihat apakah hari ini ada pertumbuhan kecil dalam diri kita.

Mungkin hari ini saya lebih sabar.

Mungkin hari ini saya lebih banyak mendengarkan.

Mungkin hari ini saya berani mencoba sesuatu yang baru.

Atau mungkin hari ini saya menyadari sebuah kesalahan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

Semuanya adalah bagian dari perjalanan.

Refleksi harus membawa kita ke langkah berikutnya

Refleksi tidak seharusnya berhenti pada kesadaran.

Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bagaimana pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.

Saya menyukai bagian terakhirnya:

rencana tindakan.

Karena apa gunanya kita menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?

Maka bagi saya, refleksi yang baik selalu berujung pada sebuah langkah.

Tidak harus langkah besar.

Kadang hanya satu perubahan kecil.

Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.

Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.

Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.

Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.

Besok saya akan belajar lagi.

Kecil, tetapi nyata.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru

Kemerdekaan profesional ternyata bukan berarti kita bebas dari kesalahan.

Bukan pula berarti kita sudah mengetahui semua jawaban.

Kemerdekaan mungkin justru dimulai ketika kita tidak lagi takut mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Dan kemudian berani melanjutkan:

“Saya akan belajar.”

Kita tidak lagi terikat pada kalimat:

“Saya memang dari dulu mengajar seperti ini.”

Kita mulai menggantinya dengan:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik?”

Kita tidak lagi melihat pengalaman sebagai alasan untuk berhenti berubah.

Kita menjadikannya bahan untuk terus bertumbuh.

Karena sebelum meminta murid menjadi pembelajar sepanjang hayat, guru perlu terlebih dahulu menunjukkan bahwa dirinya juga seorang pembelajar sepanjang hayat.

Hari ini saya kembali diingatkan:

Sebelum mengubah murid, saya perlu bersedia mengubah diri.

Sebelum meminta murid mengenal dirinya, saya perlu mengenal diri sendiri.

Sebelum berharap murid bertumbuh, saya perlu terus bertumbuh.

Dan mungkin, di sanalah salah satu bentuk kemerdekaan seorang guru bermula.

Bukan ketika kita merasa telah selesai.

Tetapi ketika kita sadar bahwa perjalanan belajar kita masih panjang.

“Menjadi lebih baik tidak selalu berarti menjadi lebih hebat dari orang lain. Kadang, kemerdekaan itu sesederhana berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Jika saya melihat diri saya sebagai guru setahun yang lalu, perubahan apa yang paling saya syukuri hari ini?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Tuliskan satu kekuatan yang Anda miliki sebagai guru dan satu hal yang masih ingin Anda perbaiki. Tidak perlu sempurna. Yang penting, jujur.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.

Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh :
Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 


Senin, 17 Agustus 2026

KETIKA GURU MENEMUKAN KEMERDEKAAN Melalui REFLEKSI (#01)

 

Sumber : doc.pribadi

Senin, 17 Agustus 2026.

Hari ini kita merayakan kemerdekaan.

Bendera Merah Putih berkibar. Lagu kebangsaan berkumandang. Berbagai perlombaan, upacara, dan perayaan mengingatkan kita pada sebuah perjuangan panjang untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Tetapi setelah perayaan itu, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada diri sendiri:

Sudahkah saya benar-benar merdeka sebagai seorang guru?

Pertanyaan itu membuat saya berhenti sejenak.

Sebab selama ini, ketika mendengar kata merdeka, yang terlintas mungkin adalah bebas dari penjajahan, bebas menentukan pilihan, atau bebas melakukan sesuatu tanpa tekanan.

Namun, dalam perjalanan menjadi guru, saya menemukan bahwa kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Merdeka sebagai guru bukan berarti bebas melakukan apa saja.

Merdeka adalah ketika kita memiliki kesadaran untuk menentukan apa yang terbaik bagi murid, keberanian untuk mengevaluasi diri, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang perlu kita pelajari. Kejujuran diri hari ini akan membawa kebaikan esok hari.

Di sinilah saya menemukan arti penting refleksi.

"Guru yang mau berhenti sejenak"

Mengajar sering kali membuat kita bergerak tanpa henti.

  • Menyiapkan pembelajaran.
  • Masuk kelas.
  • Menjelaskan materi.
  • Mendampingi murid.
  • Menilai tugas.
  • Mengikuti berbagai kegiatan.

Kemudian hari berganti dan semuanya kembali berulang. Dalam kesibukan itu, ada satu hal yang kadang terlupakan: berhenti sejenak untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan.

Bukan untuk menyalahkan diri. Bukan pula untuk mencari siapa yang salah.

Tetapi untuk bertanya:

Apa yang sebenarnya terjadi hari ini?

Apakah murid saya benar-benar belajar?

Siapa yang sudah saya bantu?

Siapa yang mungkin belum saya dengarkan?

Apa yang berhasil?

Apa yang perlu saya perbaiki?

Dan pertanyaan yang paling penting: Apakah saya sendiri masih bertumbuh sebagai seorang guru?

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah bentuk kemerdekaan. Sebab tanpa refleksi, kita mudah menjadi tawanan rutinitas. Kita mengulang cara yang sama bukan karena cara itu selalu terbaik, tetapi karena kita sudah terbiasa melakukannya.

Kita mengatakan, “Saya sudah mengajar seperti ini bertahun-tahun.”

Padahal pengalaman yang panjang tidak selalu berarti pertumbuhan yang panjang.

Dari satu refleksi menjadi sebuah perjalanan.

Kesadaran inilah yang kemudian membawa saya pada sebuah perjalanan kecil yang saya beri nama Reflection Series. Saya tidak memulainya sebagai sebuah proyek besar. Saya hanya ingin menyediakan ruang untuk berhenti sejenak. Ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.

Ruang untuk mengingat bahwa di balik profesi guru yang penuh aktivitas, ada seorang manusia yang juga perlu belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri.

Satu refleksi kemudian menjadi refleksi berikutnya. Dari #001, kemudian berlanjut ke seri-seri berikutnya.

Tema-temanya berkembang, tentang diri, tentang jati diri guru, tentang murid, tentang pembelajaran, tentang pertumbuhan, dan tentang perjalanan menjadi manusia yang terus belajar.

Saya kemudian menyadari sesuatu.

Refleksi tidak harus selalu menghasilkan perubahan besar.

Kadang, refleksi hanya menghasilkan satu keputusan kecil:

  • Besok saya akan mendengarkan murid lebih baik.
  • Besok saya akan memberi kesempatan kepada murid yang selama ini diam.
  • Besok saya akan mencoba cara yang berbeda.
  • Besok saya akan meminta maaf ketika menyadari bahwa saya keliru.
  • Besok saya akan belajar lagi.

Dan mungkin, justru dari keputusan-keputusan kecil itulah perubahan besar seorang guru dimulai.

Kemerdekaan profesional dimulai dari kesadaran.

Seorang guru mungkin tidak dapat memilih semua keadaan yang terjadi di sekolah. Kita tidak selalu dapat menentukan karakter setiap murid yang datang ke kelas. Kita tidak selalu dapat mengendalikan perubahan kebijakan. Kita tidak selalu dapat mengubah keadaan. Tetapi ada satu ruang yang selalu bisa kita perjuangkan:

ruang untuk memilih bagaimana kita merespons semuanya.

Refleksi memberikan ruang itu.

Dengan refleksi, guru tidak sekadar bertanya, “Mengapa murid saya seperti ini?”

Tetapi mulai bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan?”

Bukan sekadar:

“Mengapa pembelajaran saya tidak berhasil?”

Tetapi:

“Apa yang perlu saya ubah?”

Bukan:

“Mengapa mereka tidak termotivasi?”

Tetapi:

“Apa yang belum saya pahami tentang mereka?”

Pertanyaan mengubah cara kita melihat masalah. Dan cara pandang yang berubah dapat mengubah tindakan.

Mungkin inilah kemerdekaan yang perlu kita perjuangkan.

Kemerdekaan bangsa telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Kini, sebagai guru, perjuangan kita memiliki bentuk yang berbeda. Kita memperjuangkan agar murid memiliki kesempatan untuk tumbuh. Kita memperjuangkan pembelajaran yang bermakna. Kita memperjuangkan ruang bagi murid untuk bertanya, mencoba, gagal, dan bangkit kembali. Tetapi, sebelum mengantarkan murid menuju kemerdekaan belajar, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu:

Apakah kita sendiri sudah merdeka untuk terus belajar dan berubah?

Bagi saya, salah satu pintu menuju kemerdekaan itu adalah refleksi. Karena guru yang reflektif tidak terpenjara oleh keberhasilan masa lalu. Ia tidak terjebak pada kegagalan. Ia tidak menjadikan pengalaman sebagai alasan untuk berhenti berubah. Ia menjadikan pengalaman sebagai bahan untuk terus bertumbuh.

Maka, setelah kita merayakan kemerdekaan Indonesia, saya ingin memulai perjalanan ini dengan satu ajakan sederhana:

Mari menjadi guru yang berani berhenti sejenak. Bukan berhenti mengajar. Tetapi berhenti untuk melihat. Berhenti untuk menyadari. Berhenti untuk bertanya.

Dan kemudian…kembali melangkah dengan cara yang lebih baik. Karena mungkin, kemerdekaan seorang guru tidak dimulai ketika semua tuntutan profesinya hilang.

Kemerdekaan itu dimulai ketika ia memiliki keberanian untuk berkata kepada dirinya sendiri:

“Saya belum selesai belajar.”

Dan mungkin, kalimat sederhana itulah yang membuat kita tetap menjadi guru.

Guru yang belajar.
Guru yang bertumbuh.
Guru yang merdeka.

Pertanyaan untuk direnungkan hari ini:

Jika hari ini saya harus menjawab satu pertanyaan tentang perjalanan saya sebagai guru, apa yang paling perlu saya evaluasi?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Luangkan lima menit sebelum tidur. Jangan menilai diri Anda. Cukup tuliskan satu hal yang berhasil Anda lakukan hari ini, satu hal yang belum berjalan baik, dan satu hal kecil yang ingin Anda lakukan lebih baik besok.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

“Kadang, untuk menjadi guru yang lebih baik, kita tidak perlu melangkah lebih jauh. Kita hanya perlu berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, lalu bertanya: apa yang perlu saya lakukan lebih baik lagi?”


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh :
Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 


Supported by:

 
 
 
 




Sabtu, 08 Maret 2025

REFERENSI GRATIS _20 RESUME KBMN GELOMBANG 32

Sumber : doc.pribadi penulis

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang ke-32, dimulai hari Sabtu, 18 Januari 2025 dengan acara OPENING yang dilaksanakan melalui zoom.

Founder KBMN adalah Bapak Dr. Wijaya Kusumah, M.Pdhttps://wijayalabs.com/ yang akrab disapa OmJay, sekarang boleh kakek Jay atau Dr. Jay. Beliau seorang guru blogger Indonesia yang inspiratif dan berprestasi. Beliau telah memiliki pengalaman menulis selama 6 tahun, dengan matra saktinya "Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi"

KBMN Gelombang 32 ini dikemas dan dipandu oleh tim solid OmJay (TSO), dengan ibu Aam Nurhasanah, S.Pd sebagai koordinator penanggung jawab KBMN 32. Kelas ini berlangsung sebanyak 20 pertemuan yang dilaksanakan melalui WA Grup atau zoom meeting. Setiap pertemuan menghadirkan narasumber yang kompeten sesuai tema yang disajikan, dan dipandu oleh moderator-moderator ulung. Beliau beliau juga merupakan alumni KBMN angkatan sebelumnya.

Salah satu syarat kelulusan di kelas ini yaitu, peserta harus mengikuti seluruh kelas dan menuliskan resume materi dari setiap pertemuan, dan dipublikasikan melalui blog pribadi ataupun web lainnya.

Berikut ini, 20 link resume yang telah saya selesaikan, semoga bermanfaat. Jika dijadikan referensi, tolong cantumkan alamat blog saya juga ya https://gramatolina2020.blogspot.com/

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/01/bongkar-rahasia-trik-menulis-setiap-hari.html (Pertemuan 1)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/01/langkah-jitu-menjadikan-menulis-sebagai.html (Pertemuan 2)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/01/trik-cepat-teknik-penulisan-resume-di.html (Pertemuan 3)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/01/mengukir-prestasi-dengan-menulis.html (Pertemuan 4)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/01/strategi-jitu-menulis-buku-ajar.html (Pertemuan 5)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/menyulam-diksi-selaksa-makna.html (Pertemuan 6)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/cegah-writers-block.html (Pertemuan 7)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/merawat-komitmen-menulis-di-blog.html (Pertemuan 8)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/cara-mudah-mengelola-majalah-sekolah.html (Pertemuan 9)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/7-teknik-promosi-buku.html (Pertemuan 10)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/6-resep-menulis-itu-mudah.html (Pertemuan 11)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/pentingya-proofreading.html (Pertemuan 12)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/trik-hebat-menulis-berkarya-berprestasi.html (Pertemuan 13)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/writing-by-heart.html (Pertemuan 14)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/usaha-penerbitan-buku.html (Pertemuan 15)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/pemanfaatan-buku-digital-dalam.html (Pertemuan 16)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/02/mari-menulis-buku-biografi-autobiografi.html (Pertemuan 17)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/03/kaidah-menulis-pantun.html (Pertemuan 18)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/03/mengelola-program-literasi-sekolah.html (Pertemuan 19)

https://gramatolina2020.blogspot.com/2025/03/tips-terbitkan-buku-di-pt-andi-offset.html (Pertemuan 20)

Selamat membaca, semoga terinspirasi. Yuk, kita terus semangat untuk berkarya, minimal pernah menulis buku jadi bagian warisan hidup kita untuk anak-anak, keluarga, dan generasi mendatang. Aamiin

Kamis, 06 Maret 2025

TIPS TERBITKAN BUKU di PT. ANDI OFFSET YOGYAKARTA

Pertemuan ke-20

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 32

Jum'at, 7 Maret 2025

                        Narasumber : Agus Subardana, SE., MM

Moderator : Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr. M.Pd

Sumber : Grup WA KBMN PGRI Gel.32

Jum'at, 7 Maret 2025, pukul 13.00-14.00 wib. Puncak kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 32, hari ini menjadi sesi pamungkas. Tak terasa tiba jua di pertemuan ke-20. Tema yang sangat penting bagi para penulis, yaitu "Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta."

Menerbitkan buku di penerbit Mayor adalah mimpi terhebat  seorang penulis. Tentu saja ada beberapa standar dan prosedur yang telah ditetapkan oleh penerbit Mayor. 

Apakah memang sulit untuk tembus di penerbit Mayor? Atau ada trik dan caranya agar mudah terbit?

Semua dikupas langsung oleh narasumber hebat kita yaitu Bapak Agus Subardana, SE., MM, pendiri PT. ANDI OFFSET Yogyakarta. Kelas dipandu oleh Bapak Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr. M.Pd. 

Mari kita mengenal lebih dulu,  Bapak Agust. Subardana, S.E., M.M. melalui profil berikut ini

Nama            : Agust. Subardana, S.E., M.M.
Pekerjaan     : Direktur Penerbitan di Penerbit ANDI Offset
Pengalaman : Lebih dari 20 tahun di industri penerbitan
Pendidikan   : Sarjana Ekonomi (S.E.), Magister Manajemen (M.M.)

Riwayat Karier
  • Penerbit ANDI Offset : Mengabdi lebih dari dua dekade, saat ini menjabat sebagai Direktur Penerbitan, berperan dalam mengelola dan mengembangkan strategi penerbitan buku di berbagai bidang.
  • Dosen Kelas Malam/Karyawan di STIE Wiyata Mandala Jakarta:  Pernah mengajar di kelas malam bagi mahasiswa karyawan, berbagi ilmu dalam bidang ekonomi dan manajemen.
  • Narasumber Workshop Penulisan Buku: Aktif diundang sebagai narasumber di berbagai kampus untuk memberikan pelatihan dan workshop tentang teknik penulisan dan penerbitan buku.
  • Penulis Buku Teks: Telah menulis berbagai buku di bidang Marketing, Komunikasi Bisnis, Perencanaan Bisnis, dan Digital Marketing, yang digunakan oleh akademisi dan praktisi di berbagai institusi.
Keahlian dan Kontribusi
✔ Manajemen penerbitan dan pengembangan konten akademik
✔ Pengajaran dan pembimbingan mahasiswa serta profesional
✔ Narasumber di berbagai seminar dan workshop penulisan
✔ Penulisan buku akademik dan profesional di bidang bisnis dan pemasaran

Dengan pengalaman panjang di dunia penerbitan, pendidikan, dan kepenulisan, Agust. Subardana, S.E., M.M. terus berkontribusi dalam pengembangan literasi akademik serta mendukung kemajuan dunia bisnis dan pemasaran melalui karya-karyanya.

Penerbit Andi Offset Yogyakarta adalah salah satu penerbit mayor di Indonesia yang telah lama berkontribusi dalam dunia literasi dan penerbitan. Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, Penerbit Andi Offset telah menerbitkan berbagai buku akademik, teknologi, bisnis, dan fiksi.
Banyak penulis ingin bekerja sama dengan penerbit mayor, namun sering kali menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, memahami proses penerbitan di Penerbit  Andi Offset dapat membantu penulis untuk lebih mudah menerbitkan karyanya.

Menjadi seorang penulis adalah proses kreatif yang membutuhkan dedikasi, waktu, dan usaha. Namun, setelah naskah selesai, tantangan baru muncul: bagaimana cara menerbitkannya? Bagi banyak penulis, terutama pemula, proses penerbitan bisa terasa rumit dan membingungkan. Penerbit Andi Offset Yogyakarta, sebagai salah satu penerbit mayor di Indonesia, hadir untuk mempermudah penulis dalam mewujudkan karyanya menjadi buku yang siap dipasarkan.

Dari data ini kemungkinan besar, publik masih membaca buku cetak sebesar 81,5%. 
Sumber: Grup WA KBMN PGRI Gel.32

Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya yaitu aroma buku yang ternyata sulit dilepaskan. Hasil analisa survei ni, menunjukkani pengalaman membaca buku cetak masih tinggi yaitu 73,8%

Sumber: Grup WA KBMN PGRI Gel.32

Kabar baiknya Buku Cetak masih menjadi Primadona di Publik Indonesia sebagai buku bacaan cetak , menurut survei mencapai 79% saat ini walaupun masuk di era digital. 
Sumber: Grup WA KBMN PGRI Gel.32

Tetapi, selain kabar baik ini, ternyata tantangan terbesar di Indonesia yaitu daya beli buku oleh publik masih tergolong irit. Mayoritas publik membeli buku harga di bawah Rp. 100.000,- sebesar 70,8%

Sumber: Grup WA KBMN PGRI Gel.32


Keuntungan Menerbitkan Buku ke Penerbit Mayor, antara lain : 
  • Jangkauan Luas :  Penerbit Andi memiliki jaringan distribusi nasional, sehingga buku dapat menjangkau berbagai toko buku besar , directselling langsung ke Kampus2 dan sekolah serta masuk platform digital.
  • Reputasi Terpercaya : Sebagai penerbit mayor, Penerbit Andi Offset memiliki kredibilitas tinggi di dunia penerbitan.
  • Proses Penerbitan yang Profesional : Setiap naskah melalui proses editing, layout, dan desain sampul yang profesional.
  • Dukungan Pemasaran: Buku yang diterbitkan akan dipromosikan melalui berbagai kanal pemasaran, termasuk media sosial dan pameran buku.
  • Royalti yang Jelas: Penulis akan mendapatkan royalti dari penjualan buku sesuai dengan kesepakatan

Proses Pengajuan Naskah di Penerbit ANDI : 

1. Menyiapkan Naskah
  • Pastikan naskah sudah rapi dan sesuai dengan kategori yang diterbitkan oleh PT Andi Offset.
  • Format standar: font Times New Roman 12, spasi 1.5, dan margin normal.
2. Mengajukan Proposal Buku
  • Kirimkan proposal buku yang mencakup sinopsis, daftar isi, target pembaca, dan keunggulan buku.
  • Mengirimkan Naskah
  • Naskah dapat dikirim melalui email atau platform yang disediakan oleh Penerbit Andi Offset.
3. Proses Seleksi dan Review
  • Tim editor akan meninjau naskah dan memberikan feedback kepada penulis.
4. Kontrak Penerbitan
  • Jika naskah diterima, penulis akan menandatangani kontrak penerbitan yang mencakup hak cipta dan royalti.
5. Proses Editing dan Produksi
  • Naskah akan melalui tahap editing, proofreading, layout, dan desain sampul sebelum masuk ke proses cetak.
6. Pemasaran dan Distribusi
  • Buku yang sudah diterbitkan akan didistribusikan dan dipromosikan oleh Penerbit Andi Offset.
7. Menjalin Komunikasi yang Baik
  • Jalin komunikasi yang baik dengan tim penerbit. Responsif dan terbuka terhadap masukan atau revisi yang diberikan oleh tim editor.
8. Memahami Proses Penerbitan
  • Pahami tahapan penerbitan, mulai dari evaluasi naskah, editing, desain, hingga pencetakan. Hal ini akan membantu penulis untuk lebih sabar dan kooperatif selama proses berlangsung.
Tips untuk Mempermudah Kerja Sama dengan Penerbit

1. Tulis Naskah yang Berkualitas
  • Pastikan isi buku menarik, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
2. Ikuti Panduan Penerbit
  • Setiap penerbit memiliki kebijakan masing-masing. Pastikan mengikuti ketentuan yang berlaku.
3. Siapkan Proposal yang Menarik
  • Proposal yang jelas dan menarik dapat meningkatkan peluang diterima oleh penerbit.
4. Bangun Portofolio dan Branding Pribadi
  • Aktif di media sosial dan komunitas literasi dapat membantu meningkatkan daya tarik sebagai penulis.
5. Terbuka terhadap Masukan Editor
  • Kerja sama yang baik dengan editor akan mempercepat proses penerbitan.
6. Kenali Pasar
  • Pahami kebutuhan dan minat pembaca agar buku yang ditulis memiliki nilai jual.
7. Jaga Konsistensi 
  • Tetap konsisten dalam menulis dan mengikuti perkembangan tren literasi.
8. Bangun Jaringan
  • Manfaatkan media sosial dan komunitas penulis untuk mempromosikan karya dan membangun relasi.

Tulisan Naskah yang berkualitas, antara lain : 
  1. Riset Mendalam: Sebelum menulis, lakukan riset yang cukup untuk memastikan isi buku akurat dan berbobot.
  2. Struktur yang Jelas: Pastikan naskah memiliki alur yang runtut, mulai dari pendahuluan, isi, hingga kesimpulan.
  3. Gaya Bahasa yang Sesuai: Gunakan bahasa yang sesuai dengan target pembaca, baik formal maupun santai, tergantung pada jenis buku.
  4. Orisinalitas: Hindari plagiarisme dan berikan nilai tambah dengan sudut pandang unik.
  5. Editing Mandiri: Sebelum mengirim ke penerbit, lakukan self-editing atau minta bantuan proofreader untuk memastikan kualitas tulisan.
Penjelasan point 3 : Siapkan Proposal yang Menarik, antara lain : 
  1. Judul yang Menarik: Pastikan judul buku mencerminkan isi dan menarik perhatian penerbit.
  2. Sinopsis yang Jelas: Tulis ringkasan singkat tentang isi buku yang mencakup pesan utama dan keunggulan dibandingkan buku lain.
  3. Daftar Isi yang Terstruktur: Susun daftar isi yang menunjukkan bagaimana buku disusun secara sistematis.
  4. Target Pembaca: Jelaskan siapa yang akan menjadi pembaca utama buku ini dan mengapa mereka akan tertarik membacanya.
  5. Keunggulan Buku: Sampaikan apa yang membuat buku ini berbeda dan memiliki nilai lebih dibandingkan buku lain di pasar.
  6. Profil Penulis: Cantumkan biodata singkat, pengalaman menulis, serta alasan mengapa Anda layak menulis buku ini.
  7. Rencana Pemasaran: Jika memungkinkan, berikan gambaran bagaimana Anda bisa membantu dalam mempromosikan buku, misalnya melalui media sosial atau jaringan profesional.
Setelah narasumber selesai menyampaikan materi, saya mengajukan beberapa pertanyaan :
  1.  Kategori buku apa saja yang diterbitkan PT.ANDI OFFSET? (Kebetulan ada naskah yang sedang saya susun )
  2. Apakah ada template yang bisa kita gunakan? Sehingga lebih mudah menulis naskah dan sesuai struktur dari penerbit Andi?
  3. Berapa lama proses hingga buku terbit?
Berikut jawaban narasumber ;
  1. Semua genre kami terbitkan kecuali buku-buku horor, pornografi, dan menyinggung Suku, Agama, Budaya, dan yang bertentangan dengan Pancasila.
  2. Kami ada template , nanti saya share lewat moderator
  3. Proses terbit di ANDI OFFSET rata-rata selama 6 bulan terbit, dan paling cepat 2-3 bulan. Kalau ada pesanan khusus dari konsumen minimal 300 exs - 500exs maka 2-3 minggu terbit
Pertanyaan berikutnya dari Bu Rahmi :
  1. Jumlah halaman adakah kritera nya ? 
  2. Minimal berapa eksemplar buku ?
Jawaban Narasumber sebagai berikut

1. Kriteria Jumlah Halaman
  • Buku Akademik dan Referensi: Biasanya memiliki 150 - 500 halaman tergantung pada kompleksitas materi.
  • Buku Fiksi: Novel umumnya memiliki 100 - 300 halaman, tergantung pada genre dan target pembaca.
  • Buku Non-Fiksi Populer: Berkisar antara 100 - 250 halaman agar tetap menarik dan tidak terlalu padat.
  • Buku Anak-anak: Biasanya berkisar antara 24 - 100 halaman dengan ilustrasi pendukung.
  • Kompilasi atau Antologi: Bisa memiliki 100 - 400 halaman tergantung jumlah kontribusi penulis.
  • Pastikan Format Sesuai: Gunakan standar layout yang umum digunakan penerbit, seperti margin 3 cm dan ukuran font yang nyaman dibaca.
2. Minimal exsemplar buku di Penerbit ANDI: 
  • Permintaan Khusus minimal : 200 exs
  • Cetak reguler : 1.500 exs
Materi hari ini sangat menarik dan menantang. KBMN tidak hanya membuka jalan untuk belajar menulis dengan mudah bahkan gratis, tetapi sekaligus membuka peluang bertumbuh dan berkembang menjadi penulis profesional di masa depan.

Terima kasih

Belajar Melihat Pembelajaran dari Mata Murid (#05)

  Belajar Melihat Pembelajaran  dari  Mata Murid (#05) 21 Agustus 2026 Empat hari terakhir saya banyak berbicara kepada diri sendiri. Tentan...