Minggu, 23 Agustus 2026

Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

 

Sumber : doc pribadi

Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

Ahad, 23 Agustus 2026

Kemarin saya bertanya:

“Ketika murid tidak terlibat, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” 

 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/ketika-murid-tidak-terlibat-apa-yang.html

Hari ini, pertanyaan itu membawa saya pada pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah yang saya lihat benar-benar seluruh kenyataan?”

Mungkin tidak.

Sebab sebagai guru, saya hanya melihat satu bagian dari cerita murid.

Saya melihat ia mengobrol.

Saya melihat ia bermain.

Saya melihat ia tidak mengerjakan tugas.

Saya melihat ia keluar-masuk kelas.

Saya melihat ia tidak memperhatikan ketika saya menjelaskan.

Semua itu memang saya lihat.

Tetapi, yang saya lihat belum tentu seluruh cerita.

Antara melihat dan menyimpulkan

Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan kita sebagai guru.

Kita terbiasa mengamati.

Tetapi sering kali kita tidak menyadari bahwa setelah mengamati, kita segera menyimpulkan.

Seorang murid mengobrol.

Lalu kita mengatakan:

“Dia tidak serius.”

Seorang murid tidak mengerjakan tugas.

“Dia malas.”

Seorang murid sering keluar kelas.

“Dia tidak betah belajar.”

Seorang murid tidak menjawab pertanyaan.

“Dia tidak memahami materi.”

Padahal ada perbedaan besar antara:

Apa yang saya lihat

dan

Apa yang saya simpulkan.

Yang pertama adalah pengamatan.

Yang kedua adalah interpretasi.

Dan interpretasi kita belum tentu selalu benar.

Saya pernah menyadari betapa cepatnya guru memberi makna

Mungkin bukan hanya saya.

Banyak guru pernah mengalaminya.

Kelas sedang berlangsung.

Sebagian besar murid bekerja.

Tiba-tiba perhatian kita tertuju kepada dua orang yang sedang mengobrol.

Secara spontan, perhatian kita berpindah.

Kita menghampiri.

Menegur.

Meminta mereka kembali bekerja.

Dan pembelajaran berjalan lagi.

Tidak ada yang salah dengan menegur perilaku yang mengganggu.

Tetapi setelah kelas selesai, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

Mengapa mereka mengobrol?

Apakah karena tugasnya sudah selesai?

Apakah mereka tidak memahami instruksi?

Apakah mereka tidak memiliki peran?

Apakah mereka kehilangan minat?

Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan tugas?

Atau memang mereka sedang memilih untuk tidak mengikuti kegiatan?

Kita tidak tahu.

Dan karena kita tidak tahu, mungkin kita perlu mencari tahu.

Refleksi bukan membaca pikiran murid

Ada satu hal yang juga perlu saya ingat:

Memahami murid bukan berarti menebak-nebak isi kepalanya.

Ini penting.

Ketika saya mengatakan, “Mungkin dia sedang mengalami sesuatu,” itu masih merupakan kemungkinan.

Bukan fakta.

Ketika saya berkata, “Mungkin dia bosan,” itu juga hipotesis.

Bukan kepastian.

Karena itu, refleksi yang baik tidak berhenti pada dugaan.

Ia bergerak menuju pertanyaan:

“Bagaimana saya dapat mengetahuinya?”

Saya bisa mengamati lebih teliti.

Saya bisa berbicara dengan murid.

Saya bisa melihat pola perilakunya.

Saya bisa bertanya kepada wali kelas atau guru lain yang mengenalnya.

Saya bisa memeriksa kembali desain aktivitas pembelajaran.

Saya bisa membandingkan pengalaman di kelas yang berbeda.

Dengan demikian, saya tidak sekadar membuat cerita tentang murid.

Saya berusaha memahami cerita itu melalui bukti dan dialog.

Empat lensa untuk bercermin

Stephen D. Brookfield mengingatkan bahwa refleksi kritis guru akan lebih kuat ketika kita tidak hanya menggunakan satu sudut pandang.

Ia menawarkan empat lensa:

pengalaman pribadi, perspektif murid, perspektif kolega, serta teori dan penelitian.

Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana:

satu sudut pandang tidak selalu cukup.

Saya memiliki pengalaman saya sendiri.

Tetapi murid memiliki pengalamannya.

Kolega mungkin melihat sesuatu yang tidak saya lihat.

Dan penelitian dapat membantu saya menguji apakah keyakinan saya memiliki dasar yang cukup.

Dengan kata lain, refleksi bukan sekadar:

“Menurut saya, pembelajaran tadi sudah baik.”

Tetapi:

“Apa yang membuat saya berpikir demikian?”

Dan pertanyaan berikutnya:

“Apakah ada perspektif lain yang mungkin membuat saya melihatnya secara berbeda?”

Belajar membedakan fakta dan asumsi

Saya kemudian mencoba melakukan latihan sederhana.

Ketika melihat sebuah kejadian di kelas, saya membaginya menjadi tiga bagian.

Pertama: apa yang saya lihat.

Misalnya:

“Seorang murid berbicara dengan temannya ketika guru menjelaskan.”

Kedua: apa yang saya pikirkan.

“Mungkin ia tidak tertarik pada pembelajaran.”

Ketiga: apa yang belum saya ketahui.

“Saya belum tahu mengapa ia berbicara.”

Ternyata kalimat ketiga sangat penting.

Karena ia membuat saya tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu cepat.

Saya tetap dapat menegakkan aturan.

Saya tetap dapat meminta murid kembali mengikuti pembelajaran.

Tetapi saya tidak harus langsung memberikan label pada dirinya.

Perilakunya perlu ditangani. Orangnya perlu dipahami.

Saya kira dua hal itu tidak harus dipertentangkan.

Ketika perilaku perlu ditegaskan

Memahami bukan berarti membiarkan.

Ini pelajaran yang juga ingin saya pegang.

Jika seorang murid mengganggu kelompok lain, perilaku tersebut tetap perlu dihentikan.

Jika seorang murid keluar kelas tanpa alasan yang jelas, aturan tetap perlu ditegakkan.

Jika seorang murid terus mengobrol ketika kegiatan berlangsung, ia perlu diingatkan tentang kesepakatan belajar.

Tetapi setelah itu, guru masih dapat bertanya:

“Apa yang membuat perilaku itu muncul?”

Karena penanganan perilaku dan pemahaman terhadap murid adalah dua hal yang dapat berjalan bersamaan.

Saya bisa mengatakan:

“Perilaku ini tidak dapat diteruskan.”

sekaligus:

“Saya ingin memahami mengapa kamu melakukan ini.”

Bagi saya, di situlah ketegasan dan empati bertemu.

Tidak semua masalah harus kembali kepada guru

Saya juga belajar bahwa refleksi bukan berarti setiap kali murid tidak terlibat, guru harus menyalahkan dirinya sendiri.

Tidak.

Guru bukan satu-satunya variabel dalam pembelajaran.

Murid juga memiliki pilihan.

Murid juga memiliki tanggung jawab.

Ada saatnya guru perlu memperbaiki desain pembelajaran.

Ada saatnya guru perlu memberikan dukungan.

Ada saatnya guru perlu mengubah strategi.

Tetapi ada pula saatnya murid perlu belajar tentang tanggung jawab, disiplin, komitmen, dan konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Refleksi membantu kita membedakan semuanya.

Bukan mencari siapa yang salah.

Tetapi mencari:

“Apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang menjadi tanggung jawab murid?”

Saya tidak harus selalu benar

Semakin lama menjadi guru, saya justru merasa semakin nyaman dengan kalimat:

“Mungkin saya keliru.”

Bukan karena saya tidak percaya diri.

Tetapi karena saya tahu bahwa pengalaman bertahun-tahun tidak otomatis membuat semua penilaian saya benar.

Pengalaman memberi kita banyak pengetahuan.

Tetapi pengalaman juga dapat membentuk kebiasaan dan asumsi.

Karena itu, guru yang berpengalaman pun tetap membutuhkan refleksi.

Bahkan mungkin justru semakin membutuhkannya.

Sebab semakin lama kita berada dalam profesi, semakin banyak hal yang terasa “sudah biasa”.

Dan sesuatu yang sudah biasa sering kali berhenti kita pertanyakan.

Kemerdekaan untuk mengubah cara pandang

Di sinilah saya menemukan hubungan yang indah antara refleksi dan kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya keberanian untuk menentukan arah.

Kemerdekaan juga berarti tidak diperbudak oleh asumsi kita sendiri.

Saya merdeka untuk berkata:

“Dulu saya berpikir seperti ini. Sekarang saya menemukan sesuatu yang membuat saya perlu melihatnya dengan cara berbeda.”

Saya merdeka untuk mendengarkan murid.

Saya merdeka untuk menerima kritik.

Saya merdeka untuk mengubah strategi.

Saya merdeka untuk mengakui bahwa saya belum tahu.

Dan saya merdeka untuk terus belajar.

Mungkin itulah kemerdekaan profesional seorang guru.

Bukan merasa sudah selesai.

Tetapi memiliki keberanian untuk terus memperbarui cara melihat.

Hari ini saya ingin melihat lebih dalam

Saya tidak ingin berhenti pada apa yang tampak.

Ketika murid diam, saya ingin bertanya.

Ketika murid aktif, saya ingin melihat apakah aktivitasnya bermakna.

Ketika murid mengobrol, saya ingin memahami sebelum memberi label.

Ketika murid keluar-masuk kelas, saya ingin mencari tahu penyebabnya sekaligus tetap menjaga aturan.

Ketika sebagian kelompok aktif dan sebagian lainnya tidak, saya ingin mencari apa yang membedakan pengalaman mereka.

Bukan untuk membenarkan semua perilaku.

Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri.

Tetapi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

Karena mungkin, pekerjaan reflektif seorang guru bukan sekadar melihat apa yang terjadi.

Tetapi belajar bertanya:

“Apa yang belum saya lihat?”

Dan mungkin pertanyaan itulah yang membuat seorang guru terus menjadi pembelajar.

“Yang terlihat adalah perilaku; yang tersembunyi mungkin adalah cerita. Guru yang reflektif belajar memahami keduanya sebelum menentukan tindakan.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika saya memberikan penilaian terhadap perilaku seorang murid, mana yang benar-benar saya ketahui, mana yang saya tafsirkan, dan apa yang sebenarnya masih perlu saya cari tahu?

🌱 Langkah kecil hari ini

Hari ini, ketika menemukan satu perilaku murid yang membuat Anda terganggu, jangan langsung menuliskan:

“Murid saya malas.”

Tuliskan:

Saya melihat:

Saya menafsirkan:

Saya belum tahu:

Saya perlu mencari tahu dengan cara:

Kemudian lihat apa yang berubah ketika kita mulai memisahkan fakta dari asumsi.

Karena terkadang, yang perlu kita ubah bukan hanya tindakan kita terhadap murid.

Tetapi cara kita melihat murid itu sendiri.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.


Referensi

Brookfield, S. D. (2002). Using the lenses of critically reflective teaching in the community college classroom. New Directions for Community Colleges, 2002(118), 31–38. https://doi.org/10.1002/cc.61.

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. DOI: https://doi.org/10.37074/jalt.2019.2.2.22Content  Available at : Journal of Applied Learning & Teaching Vol.2 No.2 (2019) Journal of Applied Learning & Teaching JALT http://journals.sfu.ca/jalt/index.php/jalt/indexISSN : 2591-801X

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109. https://doi.org/10.3102/00346543074001059.

Korthagen, F. A. J., (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Kounin, J. S. (1970). Discipline and Group Management in Classrooms. Holt, Rinehart and Winston.

=================================================================

Reflection Series 1-5 dapat dibaca kembali 

#01 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html Tentang Kemerdekaan Guru

#02 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html Guru mengenal Diri Sendiri

#03 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html Guru yang Terus Bertumbuh

#04 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html Keberanian untuk Jujur

#05 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html Mata Murid

=========================================================================

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.

Sumber : doc.panitia Lomba Blog


Sabtu, 22 Agustus 2026

Ketika Murid Tidak Terlibat, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)

 


Ketika Murid Tidak Terlibat, 
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi? (#06)

22 Agustus 2026

Kemarin saya mengajak diri sendiri bergeser sedikit.

Tidak hanya melihat pembelajaran dari tempat saya berdiri sebagai guru, tetapi mencoba melihatnya dari mata murid

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html

Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan yang sedikit lebih rumit:

“Ketika murid tidak terlibat dalam pembelajaran, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Saya sengaja menggunakan kata “terjadi”, bukan “salah”.

Karena di kelas, ketidakterlibatan murid dapat muncul dalam banyak bentuk.

Ada murid yang diam.

Ada yang tidak mengerjakan tugas.

Ada yang mengobrol dengan teman.

Ada yang bermain ketika guru menjelaskan.

Ada yang mengerjakan sesuatu di luar kegiatan pembelajaran.

Ada yang beberapa kali meminta izin keluar kelas.

Ada yang izin bahkan tidak kembali lagi ke kelas.

Ada yang asyik memulas wajah, melirik cermin berkali-kali, bahkan mengintip gawai yang disembunyikan dalam meja.

Sementara di sisi lain, kelompok atau murid yang lain tetap aktif mengikuti pembelajaran.

Situasi seperti ini sangat nyata dalam kehidupan seorang guru.

Dan tentu saja, tidak semuanya dapat dijelaskan dengan satu jawaban.

Ketika murid tidak terlibat

Ketika melihat murid mengobrol saat saya sedang menjelaskan, reaksi pertama mungkin sederhana:

“Mengapa kamu tidak memperhatikan?”

Ketika melihat murid bermain:

“Mengapa kamu tidak mengikuti kegiatan?”

Ketika seorang murid berkali-kali keluar kelas:

“Mengapa kamu tidak betah belajar di kelas?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.

Tetapi setelah beberapa hari terakhir berbicara tentang refleksi, saya mencoba menambahkan satu pertanyaan lagi:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Bukan untuk membenarkan semua perilaku.

Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri sebagai guru.

Tetapi untuk memahami situasi sebelum menentukan tindakan.

Tidak semua ketidakterlibatan memiliki penyebab yang sama

Penelitian tentang school engagement menunjukkan bahwa keterlibatan peserta didik bukanlah sesuatu yang hanya dapat dilihat dari satu perilaku. Fredricks, Blumenfeld, dan Paris menjelaskan engagement sebagai konstruk yang memiliki dimensi behavioral, emotional, dan cognitive engagement.

Artinya, keterlibatan murid bukan hanya soal apakah ia terlihat diam atau aktif.

Ada dimensi perilaku.

Ada keterlibatan emosional.

Ada pula keterlibatan kognitif.

Karena itu, seorang murid yang duduk tenang belum tentu sedang terlibat secara kognitif.

Sebaliknya, murid yang banyak berbicara juga belum tentu sedang tidak belajar.

Yang perlu kita lihat adalah apa yang sedang terjadi pada proses belajar mereka

Tetapi bagaimana jika mereka memang sedang tidak belajar?

Ini bagian yang menurut saya penting untuk dikatakan dengan jujur.

Tidak semua perilaku murid harus kita cari pembenarannya.

Ada kalanya murid memang sedang memilih untuk tidak mengikuti kegiatan belajar.

Ada murid yang sudah memahami tugas tetapi memilih mengobrol.

Ada yang sengaja bermain.

Ada yang mengganggu temannya.

Ada yang keluar-masuk kelas tanpa kebutuhan yang jelas.

Dalam situasi seperti itu, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesepakatan belajar dan menjaga lingkungan kelas agar tetap kondusif.

Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.

Mendengarkan murid bukan berarti menghilangkan batas.

Dan pembelajaran yang berpusat pada murid bukan berarti guru kehilangan peran untuk mengelola kelas.

Justru di sinilah profesionalisme guru diuji.

Refleksi bukan berarti selalu menyalahkan diri sendiri

Saya merasa bagian ini penting dalam perjalanan Reflection Series.

Kadang ketika berbicara tentang refleksi, kita seolah-olah diarahkan pada kesimpulan:,

“Kalau murid tidak aktif, berarti gurunya harus memperbaiki diri.”

Tidak selalu demikian.

Refleksi yang sehat tidak mencari siapa yang salah.

Refleksi mencari apa yang dapat dipelajari dari situasi tersebut.

Maka ketika sebagian besar kelompok aktif bekerja, tetapi ada satu atau dua murid yang justru mengobrol atau bermain, saya tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa seluruh pembelajaran saya gagal.

Saya justru dapat bertanya:

Apa yang membuat kelompok lain dapat terlibat?

Apa yang berbeda pada murid yang tidak terlibat?

Apakah mereka memahami tugasnya?

Apakah mereka memiliki peran dalam kelompok?

Apakah tingkat tantangannya sesuai?

Apakah mereka merasa memiliki hubungan dengan kegiatan tersebut?

Atau memang ada faktor lain di luar pembelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya dari sekadar melihat perilaku menuju usaha memahami kondisi yang melatarbelakanginya.

Jangan buru-buru memberi label

Mungkin ini salah satu hal yang paling ingin saya pelajari sebagai guru.

Ketika seorang murid terus keluar kelas, saya bisa saja memberinya label:

“Tidak betah belajar.”

Ketika seorang murid sering mengobrol:

“Tidak serius.”

Ketika seorang murid tidak menyelesaikan tugas:

“Tidak bertanggung jawab.”

Tetapi sebuah perilaku belum tentu menceritakan seluruh pribadi seorang murid.

Karena itu, saya perlu berhati-hati.

Bukan berarti perilakunya dibiarkan.

Tetapi sebelum memberikan label, saya perlu mencoba memahami.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mungkin tugasnya terlalu mudah.

Mungkin terlalu sulit.

Mungkin ia tidak memahami instruksi.

Mungkin ia tidak menemukan makna dari aktivitas tersebut.

Mungkin ia lebih tertarik pada interaksi sosial.

Mungkin ia membutuhkan struktur yang lebih jelas.

Atau mungkin memang ia perlu belajar tentang tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.

Kita tidak akan tahu jika kita hanya melihat dari permukaan.

Guru perlu melihat kelas dengan lebih dari satu lensa

Stephen D. Brookfield mengingatkan guru untuk melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, perspektif kolega, serta teori dan penelitian.

Salah satu yang sangat relevan dengan pembahasan hari ini adalah melihat pembelajaran melalui mata murid

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html

Pertanyaannya bukan hanya:

“Mengapa murid saya berperilaku seperti itu?”

Tetapi: 

        “Bagaimana murid mengalami pembelajaran yang saya rancang?”

Apakah instruksinya jelas?

Apakah aktivitasnya bermakna?

Apakah mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi?

Apakah mereka tahu apa yang diharapkan?

Apakah mereka mendapatkan tantangan yang sesuai?

Namun setelah melihat dari mata murid, saya juga perlu kembali melihat dari perspektif guru:

Apakah murid memahami bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap proses belajarnya?

Di sinilah refleksi menjadi seimbang.

Tidak semua persoalan berada di tangan guru.

Dan tidak semua persoalan berada di tangan murid.

Pengelolaan kelas juga bagian dari pembelajaran

Jacob Kounin, dalam kajiannya tentang pengelolaan kelas, menunjukkan pentingnya kemampuan guru memonitor apa yang terjadi di kelas dan menjaga keterlibatan murid dalam aktivitas pembelajaran.

Pengelolaan kelas bukan sekadar memberikan hukuman ketika terjadi perilaku yang mengganggu.

Pengelolaan kelas juga berkaitan dengan bagaimana guru menjaga keterlibatan, kelancaran aktivitas, transisi, dan perhatian terhadap apa yang terjadi di ruang kelas.

Ini mengingatkan saya bahwa refleksi terhadap perilaku murid harus berjalan bersama dengan refleksi terhadap pengelolaan pembelajaran.

Apakah instruksi saya jelas?

Apakah alur kegiatan terlalu panjang?

Apakah waktu menunggu terlalu banyak?

Apakah transisi antarkegiatan berjalan efektif?

Apakah setiap murid memiliki pekerjaan yang jelas?

Apakah saya mengetahui apa yang sedang dilakukan setiap kelompok?

Dan ketika ada murid yang mulai keluar dari jalur pembelajaran:

seberapa cepat saya menyadarinya dan meresponsnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada sekadar berkata:

“Anak-anak sekarang sulit diatur.”

Memahami bukan berarti membiarkan

Saya ingin mempertahankan satu prinsip ini:

Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya.

Jika seorang murid memiliki alasan mengapa ia sulit terlibat, saya perlu memahami alasannya.

Tetapi setelah memahami, saya tetap perlu membantu murid belajar mengambil tanggung jawab.

Jika seorang murid terus mengobrol, saya perlu membantunya kembali pada kesepakatan belajar.

Jika ia tidak memahami tugas, saya perlu memberikan dukungan.

Jika ia merasa kegiatan tidak bermakna, saya perlu mencari cara menghubungkannya.

Jika ia memang memilih tidak terlibat, saya perlu membangun konsekuensi dan tanggung jawab yang jelas.

Refleksi tidak menghapus batas.

Refleksi justru membantu kita menentukan batas seperti apa yang tepat, kapan perlu mendampingi, dan kapan perlu memberikan tanggung jawab kepada murid.

Mungkin pertanyaan guru perlu diubah

Dulu kita mungkin bertanya:

“Mengapa murid saya tidak mau belajar?”

Sekarang saya ingin mencoba pertanyaan yang lebih hati-hati:

“Apa yang saya lihat?”

“Apa yang saya belum tahu?”

“Apa kemungkinan penyebabnya?”

“Apa bukti yang saya miliki?”

“Apa yang dapat saya ubah?”

“Apa yang perlu menjadi tanggung jawab murid?”

“Tindakan apa yang paling tepat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat refleksi menjadi lebih sistematis.

Korthagen melalui model refleksi ALACT juga menekankan pentingnya melihat kembali pengalaman, menyadari aspek-aspek penting, mencari alternatif tindakan, kemudian mencobanya kembali. Refleksi bukan sekadar mencari quick fix, tetapi berusaha memahami persoalan yang mendasarinya. (Korthagen)

Karena kelas bukan laboratorium yang selalu sempurna

Saya kira inilah salah satu keindahan profesi guru.

Kita dapat merancang pembelajaran dengan sebaik mungkin.

Tetapi ketika pintu kelas dibuka, kita berhadapan dengan manusia.

Dengan karakter yang berbeda.

Dengan pengalaman yang berbeda.

Dengan kebutuhan yang berbeda.

Dengan tingkat kesiapan yang berbeda.

Dan karena itulah tidak ada satu strategi yang selalu bekerja dengan cara yang sama pada setiap murid.

Guru perlu terus mengamati.

Mencoba.

Mengevaluasi.

Menyesuaikan.

Dan kembali mencoba.

Bukan karena kita tidak kompeten.

Tetapi karena kelas selalu bergerak.

Hari ini saya belajar untuk tidak terburu-buru

Tidak terburu-buru menyimpulkan.

Tidak terburu-buru memberi label.

Tidak terburu-buru menyalahkan diri sendiri.

Dan tidak pula terburu-buru menyalahkan murid.

Saya ingin belajar berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di kelas saya?”

Mungkin ada sesuatu yang perlu saya ubah.

Mungkin ada sesuatu yang perlu saya jelaskan.

Mungkin ada murid yang perlu saya dengarkan.

Mungkin ada aturan yang perlu ditegaskan kembali.

Atau mungkin ada tanggung jawab yang memang perlu dikembalikan kepada murid.

Semuanya membutuhkan kebijaksanaan untuk dibedakan.

Dan mungkin, itulah salah satu makna menjadi guru yang reflektif:

bukan guru yang selalu memiliki jawaban, tetapi guru yang tahu pertanyaan apa yang harus diajukan sebelum mengambil keputusan.

Kemerdekaan guru bukan berarti bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan guru adalah kemampuan untuk menentukan tindakan secara sadar, berdasarkan refleksi, pengetahuan, dan tanggung jawab profesional.

Dan kemerdekaan murid pun bukan berarti bebas melakukan apa saja di dalam kelas.

Murid juga perlu belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

“Memahami murid bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Memahami berarti mencari tahu sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika ada murid yang tidak terlibat dalam pembelajaran, apakah saya sudah membedakan antara apa yang saya lihat, apa yang saya asumsikan, dan apa yang benar-benar saya ketahui?

🌱 Langkah kecil hari ini

Pilih satu situasi ketidakterlibatan murid yang pernah terjadi di kelas.

Tuliskan tiga kolom sederhana:

Yang saya lihatKemungkinan penyebabTindakan yang akan saya coba

Jangan langsung memberi label.

Jangan langsung menyalahkan.

Amati. Pahami. Bertindak. Refleksikan kembali.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. Edisi ini secara eksplisit membahas empat lensa refleksi kritis, termasuk melihat praktik melalui perspektif peserta didik. (Wiley-VCH)

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109. https://doi.org/10.3102/00346543074001059. Artikel ini membahas keterlibatan peserta didik sebagai konstruk multidimensi yang mencakup aspek behavioral, emotional, dan cognitive. (DOI)

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates. Pendekatan Korthagen menempatkan refleksi sistematis sebagai bagian penting dari pengembangan profesional guru. (Korthagen)

Kounin, J. S. (1970). Discipline and Group Management in Classrooms. Holt, Rinehart and Winston. Karya ini merupakan salah satu rujukan klasik dalam penelitian tentang pengelolaan kelas, termasuk keterlibatan murid dan pencegahan perilaku yang mengganggu proses belajar. (Google Buku)

==========================================================================

Reflection Series 1-4 dapat dibaca kembali 

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html Tentang Kemerdekaan Guru

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html Guru mengenal Diri Sendiri

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html Guru yang Terus Bertumbuh

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html Keberanian untuk Jujur

=========================================================

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.



Jumat, 21 Agustus 2026

Belajar Melihat Pembelajaran dari Mata Murid (#05)

 

Belajar Melihat Pembelajaran 
dari 
Mata Murid (#05)

21 Agustus 2026

Empat hari terakhir saya banyak berbicara kepada diri sendiri.

Tentang kemerdekaan. 

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Tentang mengenal diri.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Tentang terus bertumbuh.

https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Dan tentang keberanian untuk jujur melihat praktik kita sebagai guru. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html

Hari ini saya ingin menggeser pandangan.

Bukan lagi hanya bertanya:

“Bagaimana saya mengajar?”

Tetapi mencoba bertanya:

“Bagaimana murid mengalami pembelajaran saya?”

Pertanyaan ini ternyata tidak sederhana.

Karena selama ini, tanpa sadar, kita sering melihat kelas dari tempat kita berdiri.

Kita melihat rencana pembelajaran yang sudah kita siapkan.

Kita melihat materi yang sudah kita sampaikan.

Kita melihat aktivitas yang sudah kita rancang.

Kita melihat tugas yang sudah diberikan.

Kita melihat asesmen yang sudah dilakukan.

Lalu kita merasa:

“Saya sudah mengajar.”

Tetapi apakah itu berarti murid sudah belajar?

Mengajar tidak selalu berarti membuat murid belajar

Ada perbedaan antara apa yang guru lakukan dan apa yang dialami murid.

Guru mungkin merasa sudah menjelaskan dengan baik.

Tetapi murid mungkin masih bingung.

Guru mungkin merasa aktivitasnya menarik.

Tetapi ada murid yang merasa tidak nyaman.

Guru mungkin merasa sudah memberi kesempatan bertanya.

Tetapi mungkin hanya murid tertentu yang berani menggunakannya.

Guru mungkin merasa kelasnya aktif.

Tetapi bisa saja aktivitas itu hanya didominasi oleh beberapa murid.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk membuat guru merasa bersalah.

Justru sebaliknya.

Pertanyaan ini mengajak kita melihat pembelajaran dari perspektif yang lebih utuh.

Dari mata murid.

Mencoba melihat dari sisi yang berbeda

Saya teringat kembali pada gagasan Stephen D. Brookfield tentang critical reflection.

Salah satu lensa yang ia tawarkan kepada guru adalah student eyes—melihat praktik pembelajaran dari perspektif peserta didik.

Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan bahwa pengalaman guru dan pengalaman murid tidak selalu sama.

Apa yang bagi kita sederhana, mungkin terasa sulit bagi murid.

Apa yang menurut kita jelas, mungkin masih membingungkan.

Apa yang kita anggap sebagai motivasi, mungkin justru dirasakan sebagai tekanan.

Dan apa yang kita anggap sebagai sebuah kesempatan, mungkin belum tentu dirasakan demikian oleh semua murid.

Maka pertanyaan reflektifnya bukan hanya:

“Apa yang sudah saya lakukan?”

Tetapi:

“Apa yang dirasakan dan dialami murid ketika saya melakukannya?”

Pernahkah kita benar-benar bertanya kepada murid?

Kadang kita sibuk mencari strategi pembelajaran dari berbagai sumber.

Membaca buku.

Mengikuti pelatihan.

Mencoba teknologi baru.

Mempelajari model pembelajaran.

Mendesain aktivitas yang inovatif.

Semua itu penting.

Tetapi ada satu sumber informasi yang sering kali paling dekat dengan kita:

murid itu sendiri.

Mereka dapat memberi tahu kita sesuatu yang tidak selalu terlihat dari meja guru.

Mereka dapat mengatakan:

“Saya lebih mudah memahami ketika Ibu memberikan contoh.”

Atau:

“Saya sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut salah.”

Atau:

“Saya senang bekerja dalam kelompok, tetapi saya sering tidak mendapat kesempatan berbicara.”

Atau bahkan:

“Saya tidak mengerti, tetapi saya malu mengatakan bahwa saya tidak mengerti.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi cermin yang sangat berharga.

Mendengarkan adalah bagian dari refleksi

Saya mulai memahami bahwa refleksi seorang guru tidak selalu harus dilakukan sendirian.

Kadang refleksi terbaik justru datang ketika kita mau mendengarkan orang lain.

Termasuk murid.

Karena itu, mungkin setelah pembelajaran kita tidak hanya bertanya:

“Apakah materi hari ini sudah selesai?”

Tetapi:

“Bagian mana yang paling membantu kamu belajar?”

“Bagian mana yang paling sulit?”

“Apa yang membuat kamu nyaman untuk bertanya?”

“Apa yang membuat kamu memilih diam?”

“Apa yang sebaiknya saya lakukan berbeda pada pembelajaran berikutnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya dapat membuka jendela yang selama ini mungkin belum kita lihat.

Guru tidak kehilangan wibawa ketika mau mendengarkan

Ada anggapan bahwa guru harus selalu menjadi sumber jawaban.

Tetapi saya semakin percaya bahwa guru juga perlu menjadi pendengar yang baik.

Mendengarkan murid bukan berarti menyerahkan kendali pembelajaran kepada mereka.

Bukan berarti semua keinginan murid harus diikuti.

Mendengarkan berarti memberikan ruang agar suara mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Karena murid bukan hanya penerima pembelajaran.

Mereka adalah manusia yang mengalami pembelajaran itu.

Dan pengalaman mereka penting.

Dari “mengajar” menuju “memahami”

Mungkin inilah perubahan kecil dalam cara pandang yang ingin saya bangun melalui Reflection Series.

Dari:

“Bagaimana saya mengajar?”

menjadi:

“Bagaimana murid belajar?”

Dari:

“Apa yang sudah saya sampaikan?”

menjadi:

“Apa yang benar-benar dipahami murid?”

Dari:

“Mengapa murid tidak aktif?”

menjadi:

“Apa yang membuat murid belum merasa aman atau memiliki ruang untuk berpartisipasi?”

Pertanyaan yang berbeda dapat membawa kita pada jawaban yang berbeda.

Dan jawaban yang berbeda dapat membawa kita pada tindakan yang berbeda.

Kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada murid

Di awal perjalanan ini, saya berbicara tentang kemerdekaan guru.

Hari ini saya mulai melihat hubungan yang lebih luas.

Guru yang merdeka tidak hanya memerdekakan dirinya untuk terus belajar. Ia juga membantu menciptakan ruang agar murid dapat tumbuh.

Murid perlu ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk salah.

Ruang untuk menyampaikan pendapat.

Ruang untuk menemukan kekuatannya.

Ruang untuk menjadi dirinya sendiri dalam proses belajar.

Dan mungkin, salah satu cara guru memberikan ruang itu adalah dengan mau mendengarkan.

Sebab kita tidak mungkin benar-benar memahami seseorang jika kita tidak bersedia mendengar suaranya.

Hari ini saya belajar untuk bergeser

Saya tidak harus selalu berdiri di tengah pembelajaran.

Kadang saya perlu bergeser sedikit.

Melihat dari sisi murid.

Mendengar dari tempat mereka berada.

Mencoba memahami apa yang mereka rasakan.

Bukan untuk kehilangan peran sebagai guru.

Tetapi agar saya dapat menjalankan peran itu dengan lebih baik.

Karena akhirnya saya menyadari:

Pembelajaran bukan hanya tentang apa yang guru ajarkan. Pembelajaran adalah tentang apa yang dialami, dipahami, dan dimaknai oleh murid.

Dan untuk mengetahuinya, saya perlu bertanya.

Saya perlu mendengar.

Saya perlu membuka diri.

Mungkin itulah langkah berikutnya dalam perjalanan refleksi saya.

Setelah berani melihat diri sendiri,

saya perlu berani melihat dunia dari mata murid.

“Guru yang reflektif tidak hanya bertanya, ‘Apa yang sudah saya ajarkan?’ Ia juga berani bertanya, ‘Apa yang sebenarnya dialami murid saya?’”

Pertanyaan refleksi hari ini

Jika murid saya diberi kesempatan menilai satu hal dari cara saya mengajar, menurut saya apa yang paling mungkin mereka katakan?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Pada akhir pembelajaran, tanyakan kepada murid hanya satu pertanyaan: “Apa satu hal yang membantu kamu belajar hari ini, dan apa satu hal yang sebaiknya saya perbaiki?” Dengarkan jawabannya tanpa langsung membela diri.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.



Kamis, 20 Agustus 2026

Refleksi Membutuhkan Kejujuran: Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

 


Refleksi Membutuhkan Kejujuran:  
Berani Melihat Diri Apa Adanya (#04)

20 Agustus 2026

Tiga hari terakhir saya mengajak diri sendiri melakukan perjalanan kecil.

Pada 17 Agustus, saya bertanya tentang kemerdekaan seorang guruhttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html

Pada 18 Agustus, saya bertanya apakah sebelum ingin mengubah murid, saya sudah berani mengenal diri sendirihttps://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html

Kemarin, 19 Agustus, saya belajar bahwa prestasi bukanlah garis akhir. Seorang guru tetap perlu bertumbuh, bahkan ketika ia telah memiliki banyak pengalaman dan pencapaian. https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html

Hari ini saya sampai pada satu kesadaran:

Untuk dapat berefleksi dengan sungguh-sungguh, seorang guru harus berani jujur kepada dirinya sendiri.

Bukan kejujuran yang membuat kita merendahkan diri.

Bukan pula kejujuran untuk mencari-cari kesalahan.

Tetapi keberanian untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak semua yang kita lakukan selalu berhasil

Sebagai guru, tentu kita ingin pembelajaran kita berhasil.

Kita merancang kegiatan.

Menyiapkan media.

Memikirkan strategi.

Menyusun asesmen.

Kemudian masuk ke kelas dengan harapan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tetapi kenyataan di kelas terkadang berbeda.

Ada murid yang antusias.

Ada yang diam.

Ada yang cepat memahami.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Ada kegiatan yang ternyata berhasil di luar dugaan.

Ada pula kegiatan yang menurut kita sudah bagus, tetapi ternyata belum memberikan dampak seperti yang kita harapkan.

Pada titik seperti ini, kita memiliki pilihan.

Kita bisa mencari alasan.

Atau kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pertanyaan kedua membutuhkan keberanian.

Sebab terkadang jawabannya bukan tentang murid.

Bukan tentang fasilitas.

Bukan tentang waktu.

Bukan tentang keadaan.

Kadang jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Refleksi bukan mencari siapa yang salah

Saya semakin memahami bahwa refleksi bukanlah proses mencari siapa yang harus disalahkan.

Refleksi adalah proses mencari apa yang dapat dipelajari.

Ketika sebuah pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan, saya tidak ingin berhenti pada kalimat:

“Murid saya kurang aktif.”

Saya ingin melanjutkannya:

Mengapa mereka kurang aktif?

Apakah pertanyaannya terlalu sulit?

Apakah saya terlalu banyak berbicara?

Apakah saya belum memberikan ruang yang cukup?

Apakah aktivitasnya sesuai dengan kebutuhan mereka?

Atau mungkin saya sendiri belum benar-benar memahami apa yang mereka perlukan?

Pertanyaan seperti ini membuat kita bergerak dari menilai menuju memahami.

Dan dari memahami, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki.

Korthagen: melihat kembali sebelum melangkah lagi

Dalam pengembangan profesional guru, Fred Korthagen mengembangkan ALACT model, sebuah siklus refleksi yang terdiri dari lima tahap: Action, Looking back on the action, Awareness of essential aspects, Creating alternative methods of action, dan Trial.

Saya melihat model ini sebagai pengingat sederhana bahwa refleksi bukan sekadar berhenti pada pengalaman.

Kita mengalami sesuatu.

Kemudian kita melihat kembali apa yang terjadi.

Kita mencoba memahami hal-hal penting di balik pengalaman tersebut.

Kita memikirkan alternatif.

Lalu kita mencoba kembali dengan tindakan yang baru.

Dengan demikian, pengalaman tidak berhenti menjadi pengalaman.

Ia berubah menjadi pembelajaran.

Dan pembelajaran kemudian melahirkan tindakan baru.

Bagian tersulit adalah melihat diri sendiri

Melihat kembali sebuah peristiwa mungkin mudah.

Yang sulit adalah melihat peran kita sendiri di dalamnya.

Apalagi ketika kita sudah memiliki pengalaman.

Apalagi ketika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan cara tertentu.

Apalagi ketika sebelumnya cara tersebut pernah berhasil.

Di sinilah refleksi menjadi penting.

Kita perlu bertanya:

Apakah saya masih melakukan ini karena memang efektif, atau karena saya sudah terbiasa?

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi bisa sangat mengganggu kenyamanan.

Sebab kadang kita menemukan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap benar ternyata perlu ditinjau kembali.

Dan menurut saya, tidak apa-apa.

Guru tidak kehilangan wibawa hanya karena mengakui bahwa dirinya masih belajar.

Justru keberanian untuk mengatakan “saya perlu memperbaiki ini” adalah bagian dari profesionalisme.

Bahkan keberhasilan pun perlu direfleksikan

Refleksi tidak hanya dilakukan ketika kita gagal.

Keberhasilan pun perlu ditanyakan kembali.

Ketika sebuah inovasi pembelajaran berhasil, kita bisa bertanya:

Mengapa ini berhasil?

Apa yang sebenarnya membuat murid terlibat?

Bagian mana yang paling memberikan dampak?

Apa yang dapat dipertahankan?

Apa yang masih perlu diperbaiki?

Dengan cara itu, keberhasilan tidak membuat kita berhenti.

Keberhasilan justru menjadi bahan untuk belajar lebih jauh.

Bagi saya, inilah mengapa Reflection Series tidak lahir hanya dari pengalaman-pengalaman yang kurang berhasil.

Refleksi juga lahir dari keinginan untuk memahami mengapa sesuatu berhasil dan bagaimana keberhasilan tersebut dapat terus dikembangkan.

Kejujuran adalah bentuk kemerdekaan

Jika pada artikel pertama saya berbicara tentang kemerdekaan, hari ini saya semakin memahami bahwa ada bentuk kemerdekaan lain yang sangat penting bagi seorang guru:

kemerdekaan untuk jujur kepada diri sendiri.

Merdeka untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Merdeka untuk mengatakan:

“Cara saya belum berhasil.”

Merdeka untuk menerima:

“Mungkin saya perlu mendengarkan murid lebih banyak.”

Dan kemudian memiliki keberanian untuk berkata:

“Saya akan mencoba lagi dengan cara yang lebih baik.”

Itulah mengapa saya tidak melihat refleksi sebagai kegiatan untuk melemahkan rasa percaya diri guru.

Sebaliknya.

Refleksi menjaga rasa percaya diri agar tetap disertai kerendahan hati.

Kita boleh percaya pada kemampuan kita.

Kita boleh bangga atas pencapaian kita.

Kita boleh bersyukur atas berbagai kesempatan yang telah diberikan.

Tetapi kita tetap perlu menyediakan ruang untuk bertanya:

“Apa yang belum saya lihat?”

Mungkin pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan terpenting dalam perjalanan seorang guru.

Karena guru yang reflektif tidak takut melihat kenyataan

Saya mulai menyadari bahwa menjadi guru reflektif bukan berarti setiap hari harus menemukan kesalahan dalam diri sendiri.

Bukan.

Refleksi berarti mampu melihat pengalaman secara utuh.

Ada yang berhasil.

Ada yang belum.

Ada kekuatan.

Ada keterbatasan.

Ada pencapaian.

Ada ruang untuk berkembang.

Semuanya diterima sebagai bagian dari perjalanan.

Dan setelah melihatnya dengan jujur, kita memilih:

apa yang akan kita lakukan berikutnya?

Mungkin itulah inti refleksi.

Bukan berhenti pada:

“Apa yang terjadi?”

Tetapi bergerak menuju:

“Apa yang saya pelajari dari apa yang terjadi?”

Dan kemudian:

“Apa yang akan saya lakukan setelah mempelajarinya?”

Hari ini saya belajar satu hal

Guru tidak harus selalu terlihat sempurna.

Guru tidak harus selalu memiliki jawaban.

Guru bahkan tidak harus selalu berhasil.

Tetapi guru perlu memiliki keberanian untuk belajar dari apa yang dialaminya.

Karena ketika kita berani jujur kepada diri sendiri, kita tidak sedang meruntuhkan diri.

Kita sedang membuka pintu untuk bertumbuh.

Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan profesional yang paling sederhana:

berani melihat diri sendiri tanpa topeng, menerima apa adanya, lalu memilih untuk memperbaikinya.

Dan mungkin, setelah kita berani melihat diri sendiri dengan jujur, kita akan lebih mampu melihat murid dengan lebih utuh.

Perjalanan itu masih panjang.

Kemarin kita berhenti.

Kemudian kita mengenal diri.

Lalu kita memilih bertumbuh.

Hari ini kita belajar untuk jujur.

Besok, mungkin saatnya kita belajar mendengarkan.

“Refleksi bukan keberanian untuk menemukan bahwa kita selalu benar. Refleksi adalah keberanian untuk melihat bahwa kita masih bisa belajar.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika pembelajaran saya tidak berjalan sesuai harapan, apakah saya lebih sering mencari alasan atau mencari pelajaran?

🌱 Langkah kecil hari ini:
Ingat satu kejadian pembelajaran yang belum berjalan sesuai harapan. Jangan mencari siapa yang salah. Tuliskan tiga hal: apa yang terjadi, apa yang saya pelajari, dan apa yang akan saya coba berbeda berikutnya.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.

Referensi

Korthagen, F. A. J., & Kessels, J. W. M. (1999). Linking theory and practice: Changing the pedagogy of teacher education. Educational Researcher, 28(4), 4–17.

Korthagen, F. A. J. (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh. 



Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

  Sumber : doc pribadi Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07) Ahad, 23 Agustus 2026 Kemarin saya bertanya: “Ketika murid tidak ter...