Minggu, 23 Agustus 2026

Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

 

Sumber : doc pribadi

Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

Ahad, 23 Agustus 2026

Kemarin saya bertanya:

“Ketika murid tidak terlibat, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” 

 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/ketika-murid-tidak-terlibat-apa-yang.html

Hari ini, pertanyaan itu membawa saya pada pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah yang saya lihat benar-benar seluruh kenyataan?”

Mungkin tidak.

Sebab sebagai guru, saya hanya melihat satu bagian dari cerita murid.

Saya melihat ia mengobrol.

Saya melihat ia bermain.

Saya melihat ia tidak mengerjakan tugas.

Saya melihat ia keluar-masuk kelas.

Saya melihat ia tidak memperhatikan ketika saya menjelaskan.

Semua itu memang saya lihat.

Tetapi, yang saya lihat belum tentu seluruh cerita.

Antara melihat dan menyimpulkan

Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan kita sebagai guru.

Kita terbiasa mengamati.

Tetapi sering kali kita tidak menyadari bahwa setelah mengamati, kita segera menyimpulkan.

Seorang murid mengobrol.

Lalu kita mengatakan:

“Dia tidak serius.”

Seorang murid tidak mengerjakan tugas.

“Dia malas.”

Seorang murid sering keluar kelas.

“Dia tidak betah belajar.”

Seorang murid tidak menjawab pertanyaan.

“Dia tidak memahami materi.”

Padahal ada perbedaan besar antara:

Apa yang saya lihat

dan

Apa yang saya simpulkan.

Yang pertama adalah pengamatan.

Yang kedua adalah interpretasi.

Dan interpretasi kita belum tentu selalu benar.

Saya pernah menyadari betapa cepatnya guru memberi makna

Mungkin bukan hanya saya.

Banyak guru pernah mengalaminya.

Kelas sedang berlangsung.

Sebagian besar murid bekerja.

Tiba-tiba perhatian kita tertuju kepada dua orang yang sedang mengobrol.

Secara spontan, perhatian kita berpindah.

Kita menghampiri.

Menegur.

Meminta mereka kembali bekerja.

Dan pembelajaran berjalan lagi.

Tidak ada yang salah dengan menegur perilaku yang mengganggu.

Tetapi setelah kelas selesai, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

Mengapa mereka mengobrol?

Apakah karena tugasnya sudah selesai?

Apakah mereka tidak memahami instruksi?

Apakah mereka tidak memiliki peran?

Apakah mereka kehilangan minat?

Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu yang sebenarnya berkaitan dengan tugas?

Atau memang mereka sedang memilih untuk tidak mengikuti kegiatan?

Kita tidak tahu.

Dan karena kita tidak tahu, mungkin kita perlu mencari tahu.

Refleksi bukan membaca pikiran murid

Ada satu hal yang juga perlu saya ingat:

Memahami murid bukan berarti menebak-nebak isi kepalanya.

Ini penting.

Ketika saya mengatakan, “Mungkin dia sedang mengalami sesuatu,” itu masih merupakan kemungkinan.

Bukan fakta.

Ketika saya berkata, “Mungkin dia bosan,” itu juga hipotesis.

Bukan kepastian.

Karena itu, refleksi yang baik tidak berhenti pada dugaan.

Ia bergerak menuju pertanyaan:

“Bagaimana saya dapat mengetahuinya?”

Saya bisa mengamati lebih teliti.

Saya bisa berbicara dengan murid.

Saya bisa melihat pola perilakunya.

Saya bisa bertanya kepada wali kelas atau guru lain yang mengenalnya.

Saya bisa memeriksa kembali desain aktivitas pembelajaran.

Saya bisa membandingkan pengalaman di kelas yang berbeda.

Dengan demikian, saya tidak sekadar membuat cerita tentang murid.

Saya berusaha memahami cerita itu melalui bukti dan dialog.

Empat lensa untuk bercermin

Stephen D. Brookfield mengingatkan bahwa refleksi kritis guru akan lebih kuat ketika kita tidak hanya menggunakan satu sudut pandang.

Ia menawarkan empat lensa:

pengalaman pribadi, perspektif murid, perspektif kolega, serta teori dan penelitian.

Saya menyukai gagasan ini karena ia mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana:

satu sudut pandang tidak selalu cukup.

Saya memiliki pengalaman saya sendiri.

Tetapi murid memiliki pengalamannya.

Kolega mungkin melihat sesuatu yang tidak saya lihat.

Dan penelitian dapat membantu saya menguji apakah keyakinan saya memiliki dasar yang cukup.

Dengan kata lain, refleksi bukan sekadar:

“Menurut saya, pembelajaran tadi sudah baik.”

Tetapi:

“Apa yang membuat saya berpikir demikian?”

Dan pertanyaan berikutnya:

“Apakah ada perspektif lain yang mungkin membuat saya melihatnya secara berbeda?”

Belajar membedakan fakta dan asumsi

Saya kemudian mencoba melakukan latihan sederhana.

Ketika melihat sebuah kejadian di kelas, saya membaginya menjadi tiga bagian.

Pertama: apa yang saya lihat.

Misalnya:

“Seorang murid berbicara dengan temannya ketika guru menjelaskan.”

Kedua: apa yang saya pikirkan.

“Mungkin ia tidak tertarik pada pembelajaran.”

Ketiga: apa yang belum saya ketahui.

“Saya belum tahu mengapa ia berbicara.”

Ternyata kalimat ketiga sangat penting.

Karena ia membuat saya tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu cepat.

Saya tetap dapat menegakkan aturan.

Saya tetap dapat meminta murid kembali mengikuti pembelajaran.

Tetapi saya tidak harus langsung memberikan label pada dirinya.

Perilakunya perlu ditangani. Orangnya perlu dipahami.

Saya kira dua hal itu tidak harus dipertentangkan.

Ketika perilaku perlu ditegaskan

Memahami bukan berarti membiarkan.

Ini pelajaran yang juga ingin saya pegang.

Jika seorang murid mengganggu kelompok lain, perilaku tersebut tetap perlu dihentikan.

Jika seorang murid keluar kelas tanpa alasan yang jelas, aturan tetap perlu ditegakkan.

Jika seorang murid terus mengobrol ketika kegiatan berlangsung, ia perlu diingatkan tentang kesepakatan belajar.

Tetapi setelah itu, guru masih dapat bertanya:

“Apa yang membuat perilaku itu muncul?”

Karena penanganan perilaku dan pemahaman terhadap murid adalah dua hal yang dapat berjalan bersamaan.

Saya bisa mengatakan:

“Perilaku ini tidak dapat diteruskan.”

sekaligus:

“Saya ingin memahami mengapa kamu melakukan ini.”

Bagi saya, di situlah ketegasan dan empati bertemu.

Tidak semua masalah harus kembali kepada guru

Saya juga belajar bahwa refleksi bukan berarti setiap kali murid tidak terlibat, guru harus menyalahkan dirinya sendiri.

Tidak.

Guru bukan satu-satunya variabel dalam pembelajaran.

Murid juga memiliki pilihan.

Murid juga memiliki tanggung jawab.

Ada saatnya guru perlu memperbaiki desain pembelajaran.

Ada saatnya guru perlu memberikan dukungan.

Ada saatnya guru perlu mengubah strategi.

Tetapi ada pula saatnya murid perlu belajar tentang tanggung jawab, disiplin, komitmen, dan konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Refleksi membantu kita membedakan semuanya.

Bukan mencari siapa yang salah.

Tetapi mencari:

“Apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang menjadi tanggung jawab murid?”

Saya tidak harus selalu benar

Semakin lama menjadi guru, saya justru merasa semakin nyaman dengan kalimat:

“Mungkin saya keliru.”

Bukan karena saya tidak percaya diri.

Tetapi karena saya tahu bahwa pengalaman bertahun-tahun tidak otomatis membuat semua penilaian saya benar.

Pengalaman memberi kita banyak pengetahuan.

Tetapi pengalaman juga dapat membentuk kebiasaan dan asumsi.

Karena itu, guru yang berpengalaman pun tetap membutuhkan refleksi.

Bahkan mungkin justru semakin membutuhkannya.

Sebab semakin lama kita berada dalam profesi, semakin banyak hal yang terasa “sudah biasa”.

Dan sesuatu yang sudah biasa sering kali berhenti kita pertanyakan.

Kemerdekaan untuk mengubah cara pandang

Di sinilah saya menemukan hubungan yang indah antara refleksi dan kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya keberanian untuk menentukan arah.

Kemerdekaan juga berarti tidak diperbudak oleh asumsi kita sendiri.

Saya merdeka untuk berkata:

“Dulu saya berpikir seperti ini. Sekarang saya menemukan sesuatu yang membuat saya perlu melihatnya dengan cara berbeda.”

Saya merdeka untuk mendengarkan murid.

Saya merdeka untuk menerima kritik.

Saya merdeka untuk mengubah strategi.

Saya merdeka untuk mengakui bahwa saya belum tahu.

Dan saya merdeka untuk terus belajar.

Mungkin itulah kemerdekaan profesional seorang guru.

Bukan merasa sudah selesai.

Tetapi memiliki keberanian untuk terus memperbarui cara melihat.

Hari ini saya ingin melihat lebih dalam

Saya tidak ingin berhenti pada apa yang tampak.

Ketika murid diam, saya ingin bertanya.

Ketika murid aktif, saya ingin melihat apakah aktivitasnya bermakna.

Ketika murid mengobrol, saya ingin memahami sebelum memberi label.

Ketika murid keluar-masuk kelas, saya ingin mencari tahu penyebabnya sekaligus tetap menjaga aturan.

Ketika sebagian kelompok aktif dan sebagian lainnya tidak, saya ingin mencari apa yang membedakan pengalaman mereka.

Bukan untuk membenarkan semua perilaku.

Bukan pula untuk menyalahkan diri sendiri.

Tetapi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

Karena mungkin, pekerjaan reflektif seorang guru bukan sekadar melihat apa yang terjadi.

Tetapi belajar bertanya:

“Apa yang belum saya lihat?”

Dan mungkin pertanyaan itulah yang membuat seorang guru terus menjadi pembelajar.

“Yang terlihat adalah perilaku; yang tersembunyi mungkin adalah cerita. Guru yang reflektif belajar memahami keduanya sebelum menentukan tindakan.”

Pertanyaan refleksi hari ini

Ketika saya memberikan penilaian terhadap perilaku seorang murid, mana yang benar-benar saya ketahui, mana yang saya tafsirkan, dan apa yang sebenarnya masih perlu saya cari tahu?

🌱 Langkah kecil hari ini

Hari ini, ketika menemukan satu perilaku murid yang membuat Anda terganggu, jangan langsung menuliskan:

“Murid saya malas.”

Tuliskan:

Saya melihat:

Saya menafsirkan:

Saya belum tahu:

Saya perlu mencari tahu dengan cara:

Kemudian lihat apa yang berubah ketika kita mulai memisahkan fakta dari asumsi.

Karena terkadang, yang perlu kita ubah bukan hanya tindakan kita terhadap murid.

Tetapi cara kita melihat murid itu sendiri.

Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.


Referensi

Brookfield, S. D. (2002). Using the lenses of critically reflective teaching in the community college classroom. New Directions for Community Colleges, 2002(118), 31–38. https://doi.org/10.1002/cc.61.

Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. DOI: https://doi.org/10.37074/jalt.2019.2.2.22Content  Available at : Journal of Applied Learning & Teaching Vol.2 No.2 (2019) Journal of Applied Learning & Teaching JALT http://journals.sfu.ca/jalt/index.php/jalt/indexISSN : 2591-801X

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109. https://doi.org/10.3102/00346543074001059.

Korthagen, F. A. J., (2001). Linking Practice and Theory: The Pedagogy of Realistic Teacher Education. Lawrence Erlbaum Associates.

Kounin, J. S. (1970). Discipline and Group Management in Classrooms. Holt, Rinehart and Winston.

=================================================================

Reflection Series 1-5 dapat dibaca kembali 

#01 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/KETIKA%20GURU%20MENEMUKAN%20KEMERDEKAAN%20Melalui%20REFLEKSI%2001.html Tentang Kemerdekaan Guru

#02 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/sebelum-mengubah-murid-sudahkah-guru.html Guru mengenal Diri Sendiri

#03 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/menjadi-guru-yang-lebih-baik-daripada.html Guru yang Terus Bertumbuh

#04 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/Membutuhkan%20Kejujuran%20%20Berani%20Melihat%20Diri%20Apa%20Adanya%2004.html Keberanian untuk Jujur

#05 https://gramatolina2020.blogspot.com/2026/08/belajar-melihat-pembelajaran-dari-mata.html Mata Murid

=========================================================================

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarkan oleh Omjay (Bapak Dr. H. Wijaya Kusumah, M.Pd) dan didukung oleh : Penerbit Andi, Euro Management, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKPI) PGRI, dan FRESNEL Haji dan Umroh.

Sumber : doc.panitia Lomba Blog


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07)

  Sumber : doc pribadi Yang Saya Lihat Belum Tentu Seluruh Cerita (#07) Ahad, 23 Agustus 2026 Kemarin saya bertanya: “Ketika murid tidak ter...