18 Agustus 2026
Kemarin, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak diri sendiri berhenti sejenak dan bertanya:
“Sudahkah saya benar-benar merdeka sebagai seorang guru?”
Pertanyaan itu membawa saya pada pemahaman bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang keberanian menentukan arah dan mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita jalani.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:
“Jika kemerdekaan adalah tentang keberanian menentukan arah, sudahkah saya sebagai guru berani melihat dan mengenali diri sendiri?”
Sebab untuk menentukan arah, kita perlu tahu siapa diri kita, apa yang kita yakini, apa yang menjadi kekuatan kita, dan apa yang masih perlu kita perbaiki.
Hari ini saya ingin melanjutkan pertanyaan itu dengan pertanyaan yang mungkin lebih sulit:
“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”
Guru yang sibuk mengenal murid
Sebagai guru, kita terbiasa berbicara tentang pentingnya mengenal murid.
Kita belajar memahami karakter mereka.
Kita mengamati kebutuhan mereka.
Kita mencoba mengenali kekuatan dan kesulitan mereka.
Kita mencari strategi agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka.
Semua itu penting.
Tetapi di tengah kesibukan mengenal murid, ada satu hal yang terkadang terlupakan:
mengenal diri sendiri sebagai guru.
Siapa saya ketika berada di depan kelas?
Apa yang membuat saya bersemangat mengajar?
Apa yang membuat saya mudah kecewa?
Bagaimana saya merespons ketika murid tidak sesuai dengan harapan?
Apakah saya cukup sabar mendengarkan?
Apakah saya benar-benar memberikan ruang kepada murid untuk tumbuh, atau tanpa sadar justru menuntut mereka menjadi seperti yang saya inginkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman.
Namun, mungkin justru karena itulah pertanyaan tersebut perlu diajukan.
Guru juga manusia yang sedang belajar
Dulu saya mungkin berpikir bahwa guru harus selalu memiliki jawaban.
Harus tahu bagaimana menghadapi murid.
Harus mampu mengelola kelas.
Harus bisa membuat pembelajaran menarik.
Harus menjadi teladan.
Tetapi semakin lama menjalani profesi ini, saya semakin memahami bahwa guru juga manusia yang sedang belajar.
Ada hari ketika pembelajaran berjalan sangat baik.
Ada pula hari ketika rencana yang telah disiapkan ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Ada saat ketika kita merasa berhasil.
Ada saat ketika kita pulang membawa pertanyaan:
“Apa yang sebenarnya terjadi di kelas saya hari ini?”
Kini saya tidak lagi melihat pertanyaan itu sebagai tanda kegagalan.
Saya justru melihatnya sebagai awal dari refleksi.
Donald A. Schön, melalui gagasannya tentang reflective practitioner, menjelaskan pentingnya profesional belajar melalui refleksi atas praktik yang dijalankannya.
Gagasan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan guru.
Kelas bukan hanya tempat murid belajar. Kelas juga tempat guru belajar menjadi guru.
Setiap interaksi dengan murid dapat menjadi cermin.
Setiap keberhasilan dapat menjadi pelajaran.
Setiap kesalahan dapat menjadi bahan untuk bertumbuh.
Melihat diri dari lebih dari satu cermin
Namun, mengenal diri ternyata tidak cukup hanya dengan bertanya kepada diri sendiri.
Kadang kita merasa sudah mengajar dengan baik karena pembelajaran berjalan sesuai rencana.
Tetapi bagaimana murid merasakannya?
Bagaimana rekan sejawat melihat praktik kita?
Apa yang dikatakan penelitian tentang pendekatan yang kita gunakan?
Stephen D. Brookfield mengajak guru melakukan refleksi kritis melalui beberapa lensa: pengalaman pribadi, perspektif murid, pandangan kolega, serta teori dan penelitian.
Gagasan tersebut mengingatkan saya bahwa refleksi bukan sekadar mengatakan:
“Menurut saya, saya sudah baik.”
Refleksi justru mengajak kita berani membuka cermin yang lebih luas.
Mungkin menurut kita pembelajaran sudah menarik.
Tetapi murid belum tentu merasakannya demikian.
Mungkin kita merasa sudah memberikan kesempatan kepada semua murid.
Tetapi masih ada murid yang belum merasa didengar.
Mungkin kita merasa sudah menjadi guru yang sabar.
Tetapi sebuah respons kecil di kelas bisa saja membuat seorang murid merasa tidak dihargai.
Di titik inilah refleksi membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk melihat diri kita sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin kita lihat.
Reflection Series: ruang untuk berbicara dengan diri sendiri
Kesadaran seperti inilah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan Reflection Series yang saya bangun.
Saya tidak memulainya dengan keinginan untuk menjadi guru yang sempurna.
Saya hanya ingin menyediakan ruang kecil untuk berhenti.
Ruang untuk bertanya.
Ruang untuk mengingat kembali pengalaman.
Ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.
Salah satu gagasan yang terus saya pegang dalam perjalanan tersebut adalah:
Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.
Bukan menjadi guru yang paling hebat.
Bukan membandingkan diri dengan guru lain.
Tetapi melihat apakah hari ini ada pertumbuhan kecil dalam diri kita.
Mungkin hari ini saya lebih sabar.
Mungkin hari ini saya lebih banyak mendengarkan.
Mungkin hari ini saya berani mencoba sesuatu yang baru.
Atau mungkin hari ini saya menyadari sebuah kesalahan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.
Semuanya adalah bagian dari perjalanan.
Refleksi harus membawa kita ke langkah berikutnya
Refleksi tidak seharusnya berhenti pada kesadaran.
Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bagaimana pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.
Saya menyukai bagian terakhirnya:
rencana tindakan.
Karena apa gunanya kita menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?
Maka bagi saya, refleksi yang baik selalu berujung pada sebuah langkah.
Tidak harus langkah besar.
Kadang hanya satu perubahan kecil.
Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.
Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.
Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.
Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.
Besok saya akan belajar lagi.
Kecil, tetapi nyata.
Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru
Kemerdekaan profesional ternyata bukan berarti kita bebas dari kesalahan.
Bukan pula berarti kita sudah mengetahui semua jawaban.
Kemerdekaan mungkin justru dimulai ketika kita tidak lagi takut mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Dan kemudian berani melanjutkan:
“Saya akan belajar.”
Kita tidak lagi terikat pada kalimat:
“Saya memang dari dulu mengajar seperti ini.”
Kita mulai menggantinya dengan:
“Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik?”
Kita tidak lagi melihat pengalaman sebagai alasan untuk berhenti berubah.
Kita menjadikannya bahan untuk terus bertumbuh.
Karena sebelum meminta murid menjadi pembelajar sepanjang hayat, guru perlu terlebih dahulu menunjukkan bahwa dirinya juga seorang pembelajar sepanjang hayat.
Hari ini saya kembali diingatkan:
Sebelum mengubah murid, saya perlu bersedia mengubah diri.
Sebelum meminta murid mengenal dirinya, saya perlu mengenal diri sendiri.
Sebelum berharap murid bertumbuh, saya perlu terus bertumbuh.
Dan mungkin, di sanalah salah satu bentuk kemerdekaan seorang guru bermula.
Bukan ketika kita merasa telah selesai.
Tetapi ketika kita sadar bahwa perjalanan belajar kita masih panjang.
“Menjadi lebih baik tidak selalu berarti menjadi lebih hebat dari orang lain. Kadang, kemerdekaan itu sesederhana berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”
Pertanyaan refleksi hari ini
Jika saya melihat diri saya sebagai guru setahun yang lalu, perubahan apa yang paling saya syukuri hari ini?
🌱 Langkah kecil hari ini:
Tuliskan satu kekuatan yang Anda miliki sebagai guru dan satu hal yang masih ingin Anda perbaiki. Tidak perlu sempurna. Yang penting, jujur.
Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.
Referensi
Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.
Brookfield, S. D. (2017). Becoming a Critically Reflective Teacher (2nd ed.). Jossey-Bass.
Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic.