19 Agustus 2026
Kemarin saya bertanya:
“Sebelum saya ingin mengubah murid, sudahkah saya mengenal diri saya sendiri?”
Hari ini saya ingin melanjutkan perjalanan itu dengan sebuah pertanyaan sederhana:
“Setelah mengenal diri, apa yang akan saya lakukan dengan kesadaran itu?”
Bagi saya, jawabannya bukan menjadi sempurna.
Jawabannya adalah:
menjadi sedikit lebih baik daripada diri saya yang kemarin.
Kita tidak harus berhenti bertumbuh
Dalam perjalanan menjadi guru, saya bersyukur pernah mendapatkan berbagai kesempatan untuk berkarya, berinovasi, mengikuti kompetisi, dan meraih beberapa pencapaian.
Setiap keberhasilan tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri.
Tetapi semakin saya menjalani perjalanan ini, semakin saya memahami bahwa prestasi bukanlah garis akhir.
Sebuah kemenangan boleh membuat kita bahagia.
Sebuah penghargaan boleh membuat kita bangga.
Sebuah inovasi boleh membuat kita percaya diri.
Namun, setelah semuanya selesai, selalu ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
“Apa yang masih bisa saya pelajari?”
Sebab apa yang berhasil kemarin belum tentu menjadi jawaban untuk tantangan hari ini.
Apa yang efektif pada satu kelompok murid belum tentu cocok untuk kelompok yang lain.
Dan pengalaman bertahun-tahun tidak berarti bahwa kita sudah selesai belajar.
Justru pengalaman seharusnya membuat kita semakin mampu melihat apa yang masih perlu diperbaiki.
Refleksi bukan tanda bahwa kita gagal
Kadang kita mengira refleksi hanya diperlukan ketika sesuatu tidak berjalan baik.
Ketika pembelajaran gagal.
Ketika murid tidak mencapai target.
Ketika sebuah program tidak sesuai harapan.
Padahal, menurut saya, refleksi juga penting ketika kita berhasil.
Mengapa berhasil?
Apa yang membuatnya berhasil?
Apakah keberhasilan itu dapat diterapkan kembali?
Apa yang masih bisa dikembangkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keberhasilan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian.
Ia berubah menjadi pengetahuan.
Berubah menjadi pengalaman.
Dan kemudian menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Di sinilah saya semakin memahami gagasan tentang reflective practitioner yang diperkenalkan Donald A. Schön.
Seorang profesional tidak hanya bekerja berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi juga terus belajar dari praktik yang dijalankannya.
Bagi guru, pengalaman mengajar adalah sumber belajar yang sangat berharga—jika kita bersedia merefleksikannya.
Reflection Series: tentang perjalanan, bukan kesempurnaan
Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu napas dalam perjalanan Reflection Series.
Saya tidak ingin menjadikan refleksi sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa saya sudah menjadi guru yang sempurna.
Sebaliknya, Reflection Series menjadi ruang untuk mengingatkan diri sendiri bahwa perjalanan seorang guru tidak pernah selesai.
Salah satu gagasan yang terus saya pegang adalah:
Menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.
Kalimat ini bukan berarti bahwa diri kita yang kemarin adalah buruk.
Tidak.
Diri kita yang kemarin adalah bagian dari perjalanan yang membawa kita sampai hari ini.
Kesalahan kemarin memberi pelajaran.
Keberhasilan kemarin memberi pengalaman.
Kegagalan kemarin memberi perspektif.
Dan pencapaian kemarin memberi kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.
Maka saya tidak ingin menghapus masa lalu.
Saya ingin belajar darinya.
Tidak membandingkan, tetapi bertumbuh
Saya menyadari bahwa perjalanan setiap guru berbeda.
Ada yang baru memulai.
Ada yang sudah puluhan tahun mengajar.
Ada yang sedang menemukan passion-nya.
Ada yang sedang membangun inovasi.
Ada yang mendapatkan penghargaan.
Ada pula yang bekerja dalam diam tanpa pernah mendapatkan panggung.
Semuanya memiliki perjalanan masing-masing.
Karena itu, ukuran pertumbuhan seorang guru tidak harus selalu dibandingkan dengan orang lain.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah saya hari ini lebih sadar daripada kemarin?”
Mungkin kemarin saya belum berani mencoba pendekatan baru.
Hari ini saya mencoba.
Mungkin kemarin saya terlalu cepat memberikan jawaban kepada murid.
Hari ini saya belajar memberi mereka waktu untuk berpikir.
Mungkin kemarin saya lebih banyak berbicara.
Hari ini saya mencoba lebih banyak mendengarkan.
Mungkin kemarin saya melihat kesalahan murid sebagai masalah.
Hari ini saya mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar.
Perubahannya mungkin kecil.
Tetapi bukankah pertumbuhan memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil?
Dari refleksi menuju tindakan
Refleksi juga tidak boleh berhenti sebagai renungan.
Graham Gibbs melalui siklus reflektifnya menunjukkan bahwa pengalaman dapat dipelajari melalui proses refleksi yang kemudian mengarah pada kesimpulan dan rencana tindakan.
Saya menyukai bagian terakhirnya:
rencana tindakan.
Sebab apa gunanya kita menyadari sesuatu jika besok kita tetap melakukan hal yang sama?
Maka refleksi yang baik selalu membawa kita pada sebuah langkah.
Tidak harus langkah besar.
Kadang hanya satu perubahan kecil.
Besok saya akan memberi lebih banyak waktu kepada murid untuk berpikir.
Besok saya akan mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan penilaian.
Besok saya akan mencoba pendekatan yang berbeda.
Besok saya akan meminta umpan balik dari murid.
Besok saya akan belajar lagi.
Kecil, tetapi nyata.
Prestasi boleh menjadi pencapaian, bukan tempat berhenti
Saya bersyukur atas setiap pencapaian yang pernah saya dapatkan sebagai guru.
Tetapi saya tidak ingin penghargaan menjadi alasan untuk berhenti belajar.
Saya tidak ingin inovasi yang pernah berhasil membuat saya merasa sudah mengetahui semua jawaban.
Saya tidak ingin kemenangan hari ini membuat saya menggunakan cara yang sama selamanya.
Justru saya ingin setiap pencapaian menjadi pertanyaan baru:
“Setelah ini, apa lagi yang dapat saya pelajari?”
Bagi saya, itulah salah satu makna refleksi.
Refleksi bukan rem untuk menghentikan inovasi. Refleksi adalah kemudi agar inovasi tetap memiliki arah.
Mungkin inilah salah satu bentuk kemerdekaan guru
Jika pada Hari Kemerdekaan saya berbicara tentang keberanian menentukan arah, hari ini saya semakin memahami bahwa guru juga membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi arah yang telah dipilihnya.
Kita merdeka untuk mencoba.
Merdeka untuk menerima masukan.
Merdeka untuk mengakui bahwa sesuatu yang berhasil belum tentu sempurna.
Merdeka untuk mengubah cara yang ternyata tidak lagi sesuai.
Dan merdeka untuk memulai kembali.
Karena menjadi guru bukan perjalanan menuju titik ketika kita akhirnya berkata:
“Saya sudah selesai belajar.”
Semakin kita mengenal profesi ini, semakin kita menyadari betapa banyak yang masih bisa dipelajari.
Murid berubah.
Dunia berubah.
Pengetahuan berkembang.
Tantangan pendidikan berubah.
Dan kita pun berubah.
Maka hari ini saya tidak ingin bertanya:
“Apakah saya sudah menjadi guru yang hebat?”
Saya ingin bertanya:
“Apakah hari ini saya sudah menjadi guru yang sedikit lebih baik daripada kemarin?”
Jika jawabannya belum, saya masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Jika jawabannya iya, saya tidak boleh berhenti.
Sebab menjadi lebih baik bukanlah tujuan akhir.
Ia adalah perjalanan.
Dan mungkin, di situlah kemerdekaan profesional seorang guru menemukan maknanya:
bukan bebas dari kesalahan, tetapi bebas untuk terus belajar dari kesalahan.
“Kita tidak harus menjadi guru yang sempurna hari ini. Kita hanya perlu berani menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”
Pertanyaan refleksi hari ini
Setelah berbagai pencapaian yang saya raih sebagai guru, apa satu hal yang masih ingin saya pelajari atau kembangkan?
🌱 Langkah kecil hari ini:
Pilih satu praktik mengajar yang sudah berhasil Anda lakukan. Jangan hanya bertanya “Apakah ini berhasil?” Tanyakan juga: “Mengapa ini berhasil, dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik?”
Belajar • Bertumbuh • Menginspirasi.
Referensi
Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.
Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford Polytechnic
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar